Rabu, 23 Februari 2011

Silaturahim

Oleh Fitrianto Setiawan, S.TP.

Silaturahim

Tugas Masyarakat Terhadap Masya’ir Islamiyah

Peranan masyarakat Islam terhadap masya'ir Islamiyah itu tergambar dalam beberapa hal berikut ini :
1. Memperkuat masya'ir itu dan meluruskannya serta menyebarkannya dengan segala sarana penerangan dan pendidikan, seperti masjid, sekolah, buku, surat kabar, radio, televisi' dan theater dan seluruh sarana yang dapat merealisasikan tujuan.
Sungguh kita bisa melihat bagaimana Rasulullah memperkuat perasaan bersaudara di antara kaum Muslimin itu dengan berdoa setiap selesai shalat :
"Ya Allah Tuhan kami, dan Rabb segala sesuatu serta pemiliknya, saya bersaksi bahwa sesungguhnya seluruh hamba-Mu itu bersaudara."
Doa ini untuk memperkuat nilai yang besar. Di antara nikmat yang dimiliki oleh kaum Muslimin adalah bahwa pemikiran dan perasaan yang dibawa oleh agama mereka tidak sekedar ide yang cemerlang, tetapi juga disertai dengan syiar-syiar ibadah, dan tata cara kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika kita melihat shalat dalam Islam, maka kita akan mendapatkan. bahwa shalat itu menegaskan secara kontinyu terhadap apa yang didakwahkan oleh Islam, yaitu berupa ta'aruf (saling berkenalan), persaudaraan, cinta dan persamaan hak. Demikian juga puasa dan haji, adab menghormati, mendoakan orang yang bersin, menjenguk orang yang sakit dan lain-lain dari tata cara bermasyarakat yang ditekankan oleh Islam.

2. Mewujudkan perasaan yang Islami dalam realita yang bisa dirasakan dan kondisi-kondisi strategis.
Perasaan kasih sayang dan cinta di antara kerabat harus diwujudkan dalam bentuk silaturahim, saling mengunjungi dan saling menanggung. Hal itu tergambar dalam aturan "nafkah" dalam Islam, yang mewajibkan bagi kerabat yang kaya berinfak kepada kerabatnya yang membutuhkan, sebagaimana firman Allah SWT:
• "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya." (Al Isra': 26)
• "Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah." (Al Ahzab: 6)

Sebagaimana juga aturan waris, dalam firman Allah SWT:
"Bagi laki-laki ada hak bagian dan harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu bapa dan kerabataya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan." (An-Nisaa': 7)
Perasaan bersaudara dan cinta antar kaum Muslimin wajib diwujudkan dalam bentuk saling memikul beban, saling mendukung dari segi militer, bersatu dalam politik, bekerja sama dalam perekonomian, dengan arti lain hendaklah persaudaraan ini terwujud dalam bentuk seperti zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka untuk diberikan kepada fuqarat mereka, dan juga seperti berjihad yang wajib bagi kaum Muslimin dengan saling menghimpun kekuatan untuk membela setiap bumi Islam yang diinjak-injak oleh telapak kaki musuh yang kafir, juga seperti masalah khilafah yang wajib bagi kaum Muslimin untuk menyatukan qiyadah (kepemimpinan) yang terpancar dari kesatuan aqidah, kesatuan berfikir, kesatuan perilaku dan kesatuan tanah air.
Oleh karena itu kita lihat Rasulullah SAW bahwa yang pertama kali beliau lakukan setelah berhijrah ke Madinah adalah mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar dengan persaudaraan yang penuh kasih sayang dan penuh beramal, itulah yang menjadikan mereka saling berbagi rasa dalam suasana suka maupun duka, sehingga diriwayatkan bahwa mereka itu saling mewarisi dengan persaudaraan ini.
Ketika persaudaraan yang khusus ini telah selesai, maka tinggal persaudaraan secara umum yang ada pada masyarakat Islam sebagai gambaran tentang sistem takaful (saling melengkapi) yang unik dengan berbagai macam dan bentuknya dan sistem ta'awun (saling kerja sama) yang syamil (universal) antara seluruh individu dan jamaahnya, itulah ta'awun yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dengan sebaik-baik ilustrasi yaitu seperti bangunan yang saling memperkokoh antara bagian dengan bagian yang lain.

3. Hendaknya masyarakat Islam tidak memberi kesempatan kepada segala sikap yang bertentangan dengan Islam dengan memunculkan dan mempengaruhi dalam masyarakat Islam, bahkan akarnya harus dicabut sehingga tidak akan muncul, dan mengusirnya jika muncul sehingga akan mati dalam sarangnya.

Oleh karena itu kita melihat Rasulullah SAW membebaskan dirinya dari ashabiyah (kesombongan) yang menghilangkan ukhuwah Islamiyah dan Nabi memeranginya dengan terus terang dan tegas karena khawatir terhadap masyarakat Islam yang baru kalau dirusak oleh qabilah jahiliyah yang berlaku dalam kurun waktu yang cukup lama dan menjadikan seseorang itu marah karena anak kabilahnya, baik dalam keadaan benar atau keliru, zhalim atau dizhalimi, karena itu datang suatu hadits yang mulia yang antipati terhadap setiap orang yang mengajak pada ashabiyah atau berperang karena ashabiyah atau mati karena ashabiyah, beliau bersabda :
"Barangsiapa yang berperang di bawah bendera kesombongan di mana ia mengajak untuk berbangga, dan mendukung karena kesombongan, lalu ia terbunuh rnaka matinya mati jahiliyah."
Ketika ada seorang Yahudi jahat berhasil membangkitkan semangat kesombongan jahiliyah antara Aus dan Khazraj pada suatu hari maka Rasulullah memadamkan api fitnah dengan cahaya iman dan mengembalikan mereka pada persaudaraan Islam.
Para ulama ahli tafsir menyebutkan suatu riwayat dari Muhammad bin Ishaq dan lainnya, bahwa ada seorang laki-laki dari Yahudi sedang lewat bertemu dengan kaum Aus dan Khazraj, maka orang itu merusak kesepakatan dan kerukunan yang ada pada mereka. Orang itu mengutus seseorang yang bersama dengannya untuk duduk bersama mereka dan mengingatkan mereka ketika mereka berperang pada suatu hari dan yang lainnya pada masa-masa jahiliyah, maka orang yang diutus itu melaksanakan perintahnya, dan terus-menerus melakukannya hingga memanaslah nafsu kaum itu. Mereka saling membenci antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain, mereka bergejolak dan saling memanggil dengan syiar mereka, "Wahai Aus, Wahai Khazraj." Mereka saling mempersiapkan senjata mereka dan saling berjanji untuk bertemu di suatu tempat. Sampai kemudian hal itu terdengar oleh Rasulullah SAW Maka Rasulullah SAW beserta orang yang bersamanya dari sahabat Muhajirin mendatangi mereka' lalu Nabi bersabda, "Wahai kaum Muslimin, Allah! Allah! (takutlah kalian kepada Allah) Apakah kalian menyeru dengan seruan jahilyah, sedang saya berada di tengah-tengah kalian? Setelah Allah menunjuki kalian kepada Islam, dan memuliakan kalian dengan Islam, dan memutuskan dan kalian perkara jahiliyah, menyelamatkan kalian dengan Islam itu dan kekufuran, dan mempertemukan hati kalian, lalu kalian mau kembali kepada kekufuran yang dahulu pernah kalian lakukan?!" sehingga kaum itu sadar bahwa itu adalah godaan dari syetan dan tipu daya dari musuh mereka, maka mereka meletakkan senjata dari tangan mereka dan mereka menangis saling berpelukan di antara mereka, kemudian mereka tetap bersama Rasulullah SAW dalam keadaan setia dan
taat." 10)
Demikianlah yang wajib dilakukan oleh masyarakat Isiam, yakni selalu ingat pada madakhil (pintu-pintu) masuk syetan untuk merusak hati mereka dan membangkitkan di antara mereka seruan-seruan jahiliyah.
Dari sinilah maka masyarakat Islam wajib dibebaskan dari kerasnya pengaruh-pengaruh fanatisme kebangsaan dan Nasionalis yang menyerang kehidupan kaum Muslimin untuk mengganti ukhuwah Islamiyah dan persatuan Islam, dan bertindak sebagai musuh. Tidak ada kesalahan bagi seorang Muslim untuk mengarahkan perhatiannya yang lebih besar kepada kaumnya yang lebih dekat dan tanah airnya secara khusus, karena ini merupakan pembawaan fithrah, tetapi dalam lingkup ketaatannya secara menyeluruh kepada Islam dan ummatr.ya.

4. Hendaknya masyarakat Islam menutup jendela yang berhembus darinya angin permusuhan dan perpecahan, dan berusaha memberantas berbagai faktor yang merusak nilai-nilai persaudaraan Islam dan merobohkan perasaan yang Islami (solidaritas Islam).
Inilah rahasia Islam mengharamkan ghibah (menggunjing), mengadu domba, menghina terhadap orang lain' dan memasukkan itu semua sebagai kerusakan moral yang merobek tali dan membunuh ruh mahabbah di antara manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya orangyang paling aku cintai di antara kamu dan yang paling dekat dariku di akhirat adalah yang paling baik akhlaqnya, dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di akhirat adalah orang yang paling burak akhlaqnya, mereka itulah orang-orang yang tsar-tsaruun (banyak orang), mutafaiqihuun, dan orang-orang yang mutasyaddiquun." (HR. Ahmad dan Thabrani)
Dari sinilah Islam mengingkari perbedaan yang tajam antara individu dan kelompok-kelompok, di mana terdapat kemiskinan yang menonjol di sisi kekayaan yang luas, kemewahan yang berlebihan di sisi ketiadaan yang menyedihkan, karena tidak tergambar dalam kehidupan bersaudara antara si kaya yang tenggelam dalam kenikmatan dan si miskin yang selalu merintih karena kelaparan dan kehausan.

*) Lihat Tafsir Ibnu Katsir dan 'Ruhul Ma'ani'-nya Al Alusi dalam menaLsirkan Surat Ali Imran ayat 100.

SUMBER PUSTAKA :
1. Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah (Malaamihu Al Mujtama' Al Muslim Alladzi Nasyuduh) oleh Dr. Yusuf Qardhawi.




Nabi saw. bersabda, "Janganlah kamu saling dengki mendengki, jangan pula saling memutuskan silaturahim, jangan pula saling memarahi, dan jangan pula saling membelakangi. Hendaklah diantara kamu adalah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Ejawantah Cinta Sejati

Oleh Fitrianto Setiawan, STP.*)

Cinta adalah satu kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi di kalangan remaja, karena sudah menjadi anggapan umum bahwa cinta identik dengan ungkapan rasa sepasang sejoli yang dimabuk asmara. Ada yang mengatakan cinta itu suci, cinta itu agung, cinta itu indah dan saking indahnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dll. Bahkan Jalaludin Rumi menggambarkan saking indahnya cinta, setan pun berubah menjadi bidadari. Yang jelas karena cinta, banyak orang yang merasa bahagia namun sebaliknya karena cinta banyak pula orang yang dibuat tersiksa dan merana. Cinta dapat membuat seseorang menjadi sangat mulia, dan cinta pula yang menjadikan seseorang menjadi sangat tercela. Kecintaan Khadijah RA kepada Rasulullah saw yang rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya dengan perasaan bahagia demi perjuangan sang kekasih yang menjadikannya mulia. Sebaliknya ada pemudi yang mengorbankan kehormatannya demi untuk menyenangkan sang kekasih yang dia lakukan atas nama cinta. Atau ada remaja yang menghabiskan nyawanya dengan baygon hanya karena cinta. Cinta yang demikian yang membawanya kepada kehinaan.
Berbicara cinta, cinta sejati, banyak orang mengejawantahkan cinta sejati dengan masing-masing penafsirannya, ada yang dangkal, ada pula yang mendalam hingga ketika kita mendengar kisah cinta itu, hati akan terasa gerimis. Cinta sejati bagi seorang pelajar SMP atau SMA atau bahkan Mahasiswa penghamba cinta, adalah ketika mencintai kekasih hatinya dengan tulus, ikhlas, dan tanpa pamrih, sungguh sebuah penafsiran yang dangkal. Atau bagi seorang seorang kakek yang berkeliling kampung di sebuah Desa Tegal Sumedang untuk menjual kipas bamboo (dalam bahasa sunda : “hihid”) dengan harga tak seberapa hanya untuk membahagiakan sang anak yang cacat fisik dan mental dengan membelikannya sebuah radio ‘butut’. Ini adalah bentuk cinta sejatinya kepada cucunya yang telah ditinggal orang tuanya. Atau cinta sejatinya pasangan tunanetra di Desa Jelegong, yang keduanya berjuang keras, berusaha untuk membiayai sekolah anak semata wayang mereka yang normal, meski keduanya harus melakukan perjalanan Rancaekek – Ledeng dengan berjalan kaki mengantarkan surat permohonan beasiswa ke sebuah Badan Zakat hanya demi anak mereka tercinta. Miskin harta tak membuat mereka miskin iman dan amal.
Kini, mari kita lihat satu kisah tentang cinta ini : suatu kisah seorang sufi yang mengatakan bahwa beliau 'mimpi seakan-akan berada di hadapan Allah' kemudian Allah berkata: (dalam bahasa yang lebih sederhana) ........
Ketika AKU baru menciptakan manusia, mereka semua mengaku cinta kepada-KU.
Kemudian KU-ciptakan dunia, sebagian besar berpaling ke dunia lari meninggalkan-KU, hanya sedikit yang tetap mencintai-KU.
Kemudian KU-ciptakan Surga, sebagian besar dari yang sedikit itu berpaling padanya, dan tinggal sedikit dari yang sedikit tetap mencintai-KU.
Kemudian KU-ciptakan Neraka, sebagian besar dari yang sedikit dari yang sedikit tadi lari meninggalkan-KU karena takut padanya, maka tinggallah sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit tetap cintanya kepada-KU.
Pada yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit itu KU-timpakan ujian, Sebagian besar dari yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit itu tidak tahan dan mengeluh, hingga hanya tinggallah sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit tadi masih tetap cintanya kepada-KU.
Kepada yang tersisa itu AKU katakan... "Kalian tidak menginginkan dunia, tidak mengharapkan surga, tidak lari dari neraka, dan tidak mengeluh dari ujian, lalu apa yang kalian inginkan...?"
"Engkau lebih mengetahui apa yang kami inginkan, jawab mereka."
"AKU akan memberikan cobaan yang berat pada kalian, sebanyak napas kalian, bahkan gunung yang kokoh sekalipun tidak akan sanggup menanggungnya, apakah kalian akan tetap bersabar...?"
"Jika KAU yang menurunkan cobaan itu, kami siap menerimanya."
Kata Allah... "Kalian adalah hamba-hamba-KU yang sejati. Kalian adalah pecinta-KU yang sidiq. Aku akan beri kalian dunia dan surga. Aku akan menyingkirkan segala bencana dari kalian." Mereka yang tersisa itu-lah hamba-KU.
Alhamdulillah... Allah Maha Pemurah, jika tidak karena ada cinta-Nya mustahil kita akan mampu bertahan dengan segala ujian dari-Nya.  Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Allah artinya Takwa. Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Allah yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Ya, itulah cinta sejati  yang (seharusnya) diejawantahkan kepada Allah, Sang Pencinta, Sang Pemberi Cinta.

 *) Ketua LSM Furiska Periode 2008-2010

Senin, 10 Januari 2011

sebuah pembelajaran dari beberapa bantuan gempa padang

oleh Ust. Rahmat Abdullah....

Betapa banyaknya dusta yang dikemas dengan bungkus dan label yang menarik. Betapa banyak kebajikan yang dilakukan dengan bersyunyi-sunyi. Bukan salah pelaksana kebajikan menabur jasa, tetapi salah sebagian penonton yang tak sadar perlunya kebajikan disebarluaskan, minimal untuk menghibur ummat yang kehilangan kepercayaan akan adanya orang-orang yang berhati mulia. Bila seseorang mengundang wartawan untuk meliput acara tahajudnya di tengah malam, atau sedekahnya kepada fakir miskin, hampir dapat dipastikan orang menangkap kesan pamer dan riya’ disana. Akan tetapi bila dana ummat, kesigapan kader dan partisipasi ibu-ibu yang tak kenal lelah menyantuni kaum dhu’afa, memeriksa kesehatan warga tak mampu atau mendirikan pendidikan swadaya masyarakat, apa yang ditakutkan? Riya’, sum’ah, pamer? ALLAH yang memerintahkan untuk berinfaq dengan “rahasia atau terbuka” (Sirran wa’alaniah). Kerap diartikan ‘sirran’ untuk sedekah sunnah oleh pribadi-pribadi dan ‘alaniah’ untuk zakat yang menjadi hak miskin untuk memperolehnya dan hak publik untuk mengetahuinya. Akan dibiarkan ummat putus harapan kepada kader-kadernya yang nyaris tak mereka dengar gebrakan kebajikannya, padahal hanya dalam waktu satu dua jam sesudah terjadinya gempa bumi di suatu kawasan, mereka telah menyiapkan bantuan medis, dapur umum, penampungan. Ummat lain dengan pongahnya menjanjikan sepekan lagi kami akan kesana, sambil menayangkan rekam aksi bakti sosial mereka yang direkayasa seperti banyak, tetapi hanya tipuan lensa. Akan dibiarkan ummat menonton dengan iman yang mulai ragu kepada kebenaran agamanya sendiri, karena disana ditayangkan dalam tayangan tengah malam, betapa doa yang diarahkan kepada makhluk telah membuat melek si buta dan berjalan si lumpuh. Tak ada yang buta dan tak ada yang lumpuh. Yang ada dusta-dusta berkedok doa, orasi-orasi menggelora tetapi kosong dari kebenaran, tipuan-tipuan telah dibawa ke langit lewat satelit. Dan genaplah dusta permanen mereka yang telah dimulai dengan dusta atas nama Allah!

Akan Selalu Ada Pahlawan Di Setiap Kezhaliman

Ibrahim kecil gagah menantang Raja Namruj yang tengah geram, dikelilingi sejumlah pasukan dan beberapa algojonya, Namruj bertanya, “Hai anak kecil, kamukah yang
menghancurkan patung-patung sesembahan kami?”. Dengan enteng Ibrahim berkata,
“Tanyakan saja pada patung yang lebih besar itu, mungkin dia yang melakukannya
karena kapak itu masih tergantung padanya,” ledek Ibrahim sambil menunjuk
patung yang besar yang sengaja tidak dihancurkannya. Tentu saja Raja Namruj
yang terkenal kejam itu semakin berang mendengar jawaban Ibrahim. Bukan hanya
karena merasa dipermainkan seorang anak kecil, melainkan juga, jawaban itu,
terasa menohok sisi kebodohan dirinya dan semua pengikutnya dengan menyembah
sesuatu yang tak memiliki kuasa melakukan satu apapun.

Alhasil, keberangan yang bercampur perasaan terhina Raja Namruj membuat Ibrahim
‘dihadiahi’ hukum bakar, selain karena Ibrahim adalah tersangka utama pelaku
‘teror’ terhadap tempat ibadah kaum yang dipimpin Raja Namruj itu. Namun kuasa
Allah bermain, makar apapun yang dibuat manusia takkan pernah bisa mengalahkan
makar Allah. Seganas dan semerah menyala api membakar tubuh Ibrahim kecil, tak
sedikitpun kulitnya tersentuh oleh jilatan api.

Kisah lain, Daud yang memiliki kemampuan berperang yang hebat tak gentar menghadapi pertarungan “semut lawan gajah” melawan Raja Jalut yang terkenal bengis dan kejam. Daud
yang berasal dari kalangan bawah dengan berbekal sebilah pedang tanpa baju
besi, akhirnya mampu mengalahkan Raja Jalut yang besar dengan segudang
pengalaman bertarungnya. Dalam versi barat, kisah ini dikenal dengan “David
Versus Goliath”.

Sementara itu, seorang utusan Allah lainnya, Musa dengan ditemani saudaranya Harun, menentang kekejaman ‘ayah asuhnya’ sendiri, Raja Fir’aun yang zhalim dan diktator.
Kekuasaanya yang begitu tinggi membuat Fir’aun teramat angkuh menobatkan diri
sebagai Tuhan. Kesombongan yang didukung oleh seorang ilmuan hebat bernama
Hamman dan seorang kaya bernama Qarun, jadilah ia semakin jumawa. Fir’aun yang
terkenal kejam tidak ingin seseorang kelak menghancurkannya, maka kemudian atas
perintahnya, semua bayi laki-laki yang lahir pada masa pemerintahannya pun
dibunuhi. Sekali lagi, Kuasa Allah bermain, bahwa kemudian seorang pemuda Musa
yang justru hidup di lingkungan istana Fir’aun oleh lembutnya kasih sayang
Asiah, menenggelamkan Raja zhalim itu ke dasar lautan.

Dalam khazanah barat, kita pun mengenal kisah yang hampir serupa, yakni kisah kepahlawanan
yang berasal dari orang-orang kecil yang menentang kezhaliman penguasa. Cerita
rakyat Robin Hood mungkin bisa menjadi contoh. Berjuang dari pedalaman hutan
Sherwood, Robin bersama para pengikut setianya ‘merampok’ harta para bangsawan
yang hendak menyerahkan upeti kepada King Richard The Lionheart. Otomatis,
meski makin dicintai rakyat kecil, sepak terjang si pemanah ulung itu
menempatkannya dalam daftar buronan nomor wahid di Inggris saat itu. Cerita
yang hampir sama juga dilakukan legenda Meksiko, Zorro. Dibalik topeng yang
menyembunyikan identitasnya, Zorro membantu orang-orang lemah untuk melawan dan
bangkit dari ketertindasan. Mungkin dua cerita diatas hanyalah mitos atau
sekedar cerita rekaan. Namun setidaknya memberikan satu hikmah, bahwa harus ada
orang-orang pemberani untuk melawan kezhaliman.

Nampaknya, soal keberadaan orang-orang besar yang berlaku zhalim di setiap negeri di setiap
zaman sudah menjadi sunnatullah. Hal itu ditegaskan-Nya dalam Surat Al An’aam
ayat 123: “Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri
penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri
itu. …”.

Kalau dulu ada Ibrahim yang menentang Namruj, Daud
versus Jalut, Musa yang menenggelamkan Fir’aun serta masih banyak lagi tokoh
kepahlawanan yang berani berdiri menantang segala bentuk kezhaliman di muka
bumi dalam satu negeri, kini disaat negeri ini, agama ini tengah dihujani
dengan cobaan bertubi-tubi, oleh kekuatan-kekuatan yang terus merongrong,
menteror bahkan mencoba menjadikan agama ini hitam pekat oleh karena kejahilan
orang-orang yang tak bertanggungjawab, adakah lagi pahlawan-pahlawan yang
menjadi tameng pembela seperti halnya Ibrahim, Daud dan Musa? Tentu saja ada.
Karena gemuruh jihad tengah bergelora dalam dada-dada para pahlawan itu.
Tinggal bagaimana diri ini menentukan sikap, memadamkan gemuruh itu dan
membiarkan orang lain mengambil kesempatan menorehkan nama pada kemuliaan atau
menjadikan gemuruh itu sebuah halilintar yang menggetarkan nyali musuh Allah. Wallaahu
a’lam bishshowaab.

Agar Dapat Melihat Surga

Seorang anak dengan gayanya yang lugu bertanya kepada ibunya, “bu, apa
itu cinta?”. Cinta ada adalah kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari kenikmatan
memberi dan kerelaan berkorban, jawab sang ibu. “Karena itukah banyak orang
mengagungkan cinta?” tanya sang anak lagi. Dengan sabar dan penuh cinta ibunya
menerangkan, bahwa keagungan cinta hanya berada pada cinta Sang Agung, Si
pencipta cinta itu sendiri. Dan jika ada yang mengagungkan cinta diatas
segalanya, sebenarnya ia tidaklah tengah mengagungkan cinta melainkan perasaan
dan nafsunya yang tengah bergumul sehingga meluap menjadi nafsu berbaju cinta.
Padahal jika mau membuka tabir sebenarnya, tentu mereka akan sadar kalau tengah
terombang-ambing oleh arah cinta yang salah. “ini wajar nak, karena kebanyakan
manusia hanya sebatas menggunakan mata kepala dan mengabaikan mata bathinnya,
sehingga ia lupa bahwa cinta bersemayam dan bergetar-getar dihati, bukan di
kepala, apalagi dimata.



Cinta harus dilihat dengan mata bathin, dan kebanyakan manusia
memandang cinta hanya berhenti di mata kepala, sehingga seringkali tidak mampu
menangkap kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari mencinta dan dicinta. Karena
itu, mereka yang senantiasa mampu menggunakan mata bathinnya untuk melihat
segala hal, ia akan melihat siapapun dan apapun dengan cinta. “Karena Allah pun
teramat cinta kepada yang mempersembahkan cinta kepada-Nya”

“Lalu kenapa ada orang yang saling membenci, bertengkar dan saling
bermusuhan?” tanyanya lagi. Itulah kehebatan Allah. Dia ciptakan manusia dengan
bentuk yang sempurna sehingga dengan kesempurnaan yang dimilikinya itu, manusia
bisa menangkap kesan yang lain, tidak hanya cinta. Ada benci, marah, kecewa,
senang, tertawa, sedih dan masih banyak lagi. Tak perlu takut, semua itu salah
satu anugerah dari-Nya yang patut kita syukuri. Sudah menjadi fitrah manusia
tidak menyukai sesuatu yang tidak disenanginya, artinya sesuatu hal yang tidak
berkenan, tidak sesuai dengan hati nuraninya, adalah sangat manusiawi jika
dibenci. Dan adalah fitrah manusia juga untuk kecewa jika sesuatu tak seperti
harapannya, tak seindah mimpinya.



Masalahnya kemudian, bagaimana manusia mengkondisikan hatinya agar
senantiasa condong kepada kebenaran, sehingga benci, marah dan kecewa serta
sedihnya hanya kepada kebathilan, kesemena-menaan, kezhaliman, keserakahan dan
bahkan kesombongan diri, juga dosa yang dilakukannya.“Bagaimana dengan
tersenyum dan tertawa?” Senyum dan tawa adalah sebuah refleksi, sama seperti
benci, marah dan sedih. Hanya bedanya, biasanya senyum dan tawa adalah cermin
dari keberhasilan, kemenangan dan prestasi seseorang akan sesuatu. Tak perlu
merasa bersalah hanya karena tersenyum dan tertawa. Mungkin Allah menciptakan
rasa itu untuk melatih manusia. “Bukankah semua hamba-Nya yang sholeh kelak
akan tersenyum di hadapan Allah yang menghadirkan keagungan wajah-Nya?” jelas
sang Ibu sambil mengusap kening anaknya yang serap-serap mulai terbuai ke alam
tidurnya.Lama ia dibuai cinta sang Ibu, dengan sentuhan lembut ibunya ia
memainkan nyanyian dawai-dawai indah yang bergelung-gelung dialam mimpinya. Ia
merasakan kehangatan hidup, keceriaan dunia. Mungkin karena usianya yang memang
belum pantas merasakan kegetiran dan kepahitannya. Untuk sementara ibunya
membiarkan mimpi anaknya tak terusik oleh kepayahan mencari sesuap nasi yang
dijalaninya, juga hantaman kerikil di sepanjang jalan yang disusurinya. Terik
dan hujan menjadi baluran tubuhnya sehari-hari, demi satu cita, tak kan
membiarkan dimasa depan anaknya mengeluarkan keringat dan darah seperti yang
dialaminya kini. Mungkin semua orangtua mempunyai mimpi yang sama. Hingga
dengan demikian sang ibu semakin sadar bahwa hanya Tuhanlah yang selama ini
menguatkan, mempertebal kesabaran serta menanamkan keyakinan dihatinya, bahwa
esok matahari masih akan terbit.Dan menjelang fajar, seusai kesejukan membasuh
seluruh tubuh untuk kemudian bersimpuh dihadapan-Nya. Tak terasa air bening
mengalir membasahi pipi, untaian kata pinta yang tak pernah berhenti, yang tak
pernah berhias putus asa, yang tak diiringi penyesalan akan beban hidup yang
saat ini diamanahkan kepadanya. Terkadang ada tangis yang begitu keras sekeras
benturan kehidupan yang menerpanya, hingga tak sadar tangisannya itu menyentuh
relung bathin anaknya sampai terbangun.



“Kenapa ibu menangis?” Menangis adalah satu
anugerah Allah lainnya nak. Menangis adalah wujud dari kelemahan manusia yang
jelas-jelas kekuatannya sangat terbatas. Menangis adalah pembuktian akan adanya
Yang Maha Kuat yang memiliki kehendak diatas segala mau dan keinginan manusia.
Tak perlu malu untuk menangis, karena dengan menangis kita tengah melunturkan
kesombongan, kepekatan hati yang penuh noda hitam dari setiap detik hidup yang
berlumur salah, juga menghilangkan penyakit-penyakit lainnya yang kerap hinggap
di kalbu.Menangis tidak mesti dengan air mata, meski biasanya selalu dengan
itu. Air bening yang membasahi mata akan membasuh dosa yang berawal dari
penglihatan manusia. Kemudian airnya turun menyejukkan wajah kita. Itulah cara
Allah membersihkan wajah manusia yang coreng-moreng oleh kekhilafannya. Maka
dengan menangis setiap hari, wajah menjadi bersih, hati pun sejuk kembali dan
kebeningan mata yang sudah terhapuskan pekatnya, memberikan keindahan
tersendiri. Semua itu, hanya agar manusia dapat melihat surga. Wallahu ‘a’lam
bishshowaab

Apa Salahnya Menangis?

Apa salahnya menangis, jika memang dengan
menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya,
saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt.
Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia
tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya.
Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat
dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari
kebenaran.

Sebagian orang menganggap menangis itu
adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi
selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu
melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika
mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah
hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis
merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai
peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air
matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari
oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu
menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat
dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar
suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca
Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap
Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam
berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap
Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para
sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam
jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang
peka.

Bukankah diantara tujuh golongan manusia
yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan
Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia
meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo’a
sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam
kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat
saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam
kesendirian dikala berdo’a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang
harus diembannya di dunia ini.

Di zaman ketika manusia lalai dalam
gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya.
Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata
demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya
terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita
tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya
mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang
sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya.
Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia
akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan
terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan
kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan
kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka
sendiri) seraya berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami
bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian
Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83). Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat
Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi
mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu.
Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran
itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja
yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.

Orang yang keras hatinya, akan sulit
menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari
Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran.
Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin
Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia
tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, “Sesungguhnya
orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah.
Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”.
(QS. An Nisa’: 145)

Barangkali di antara kita yang belum pernah
menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo’a
di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang
terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar
ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi
penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak
menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di
dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan
dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82). Jadi
apa salahnya menangis?.

Who am I???

banyak dari manusia belum mengenal dirinya dengan baik…
bahkan lupa akan dirinya…
lupa akan fitrah yang Allah berikan padanya…
lupa akan tugasnya sebagai khalifah…
lupa bahwa dirinya sebagai dai yang menyampaikan kebaikan pada orang lain…
lupa akan kewajiban yang Allah berikan…
lupa akan tilawah-tilawahnya…
lupa akan Qiyamul Lailnya…
lupa untuk membina keluarganya untuk benar-benar menjalankan Islam dengan baik…
Ya itulah sifat manusia yang lupa akan hakikatnya sebagai manusia…
apakah anda termasuk salah satu didalamnya???
hanya anda yang tahu…
Who Am I????

Pengakuan Ibunda Farih, Bocah 3 Tahun Penghafal Al Quran

M Lili NurAulia Full


Farih Abdurrahman “Anak Ajaib”
Dan, Terucaplah Surat Al Kahfi dari Mulutnya....

Farih Abdurrahman. Allah swt telah memilihnya agar menjadi salah satu bukti karamah-Nya yang diperlihatkan kepada umat manusia. Di bumi Aljazair, anak usia tiga tahun ini menghafal Al Quran sejak ia masih dalam kandugnan ibunya...

Farih Abdurrahman, usianya masih tiga tahun. Siapapun yang melihat sosoknya, pasti gemas. Matanya yang berbinar, senyumannya yang polos, raut mukanya yang bersih dan polahnya yang ceria. Farih, ia bukan anak biasa. Ia anak istimewa. Sebagian orang bahkan menyebutnya sebagai “at thiflu al mu’jizah” atau bocah mukjizat. Tentu saja, mukjizat tidak dalam arti sebenarnya. Hanya menandakan bahwa Farih memang memiliki keistimewaan yang sangat jarang dimiliki anak-anak seusianya.

Malam itu, ia dituntun orang tuanya untuk bisa duduk di kursi podium, di sebuah acara yang ditayangkan oleh televisi Aljazair, yang bertajuk ”Fursaan Al Qur’aan”. Memakai torbus atau topi merah khas Aljazair, ia pun duduk dengan senyum dan mata polosnya. Kakinya yang masih sangat pendek, bergantung dan berayun di kursi yang masih terlalu tinggi untuk ukuran anak seusianya. Kala itu ia berada di hadapan seratusan hadirin yang sebagiannya, adalah tokoh agama dan para penghafal Al Quran. Lalu, lisannya tak lama berucap lancar ayat demi ayat surat Maryam yang berjumlah 98 ayat. Sebagaimana yang umum berlaku di Aljazair, pembacaan Al Quran dilakukan lewat riwayat Hafash dari Ashim melalui Asy Shatibi. Itulah yang dibunyikan oleh Farih.

Belajar Dari Burung Hud-Hud

Umat Islam patut bersyukur karena ajaran dan agama yang dianutnya adalah agama yang telah diridhai oleh Allah Taala.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْأِسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran:19)

Islam adalah agama para nabi dan umat-umat terdahulu ketika mereka masih lurus menjalankan agama mereka sesuai dengan perintah rasul dan nabi mereka. 2:132-133,136; 3:52,64,84; 5:111. Karena itu, umat Islam kaya akan kisah dan pelajaran dari umat-umat terdahulu. Kisah yang dialami oleh saudaranya seiman dalam menegakkan tauhid dan memakmurkan bumi. Kisah dan kejadian yang dialami umat terdahulu dapat kita lihat pada kalamullah untuk diambil ibrah dan dars. Pengkisahan merupakan salah satu uslub dari asalib quraniyah fi tarbiyatil ummah.
Beberapa kisah dapat kita jumpai pada sabda Rasulullah saw. yang kebenarannya sudah dijamin Allah Taala.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm:3-4)

Ditambah lagi bahwa umat Islam memiliki contoh beberapa generasi beliau yang kaya akan rawai’ imaniyah wa ukhawiyah. Hal ini telah oleh legitimasi dengan firman-Nya, Al-Fath: 29, At-Taubah: 100, Al-Hasyr: 8

حَدِيثُ عِمْرَان بنِ حُصَّينِ: إِنَّ خَيرَكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الذِينَ يَلُونَهُم ثُمَّ الذِينَ يَلُونَهُم ثُمَّ الذِينَ يَلُونَهُم – ثُمَّ قَالَ عِمْرَان: فَلاَ أَدْرِي أَقَالَ رَسُولُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ قَرْنِهِ مَرَتَينِ أَوْ ثَلاَثاً

Dari ‘Imran bin Hushain r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah abadku (para sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. Kemudian Imran berkata, “Aku tidak tahu apakah Rasulullah saw. mengatakan setelah mereka itu dua kali atau tiga kali.”

Yaitu pada masa Rasulullah saw. dan shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Tetapi kita masih juga memiliki banyak pelajaran dari generasi-generasi setelah mereka.

عَنْ عِمْرَان بنِ حُصَّين قَالَ قَالَ رَسُولُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَزَالُ طَائِفَةُ مِنْ أُمَّتيِ ظَاهِرِينَ عَلىَ اْلحَقِّ حَتىَّ تَقُومَ السَّاعَةُ

Dari ‘Imran bin Hushain, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Senantiasa ada segolongan umatku yang tegak pada kebenaran sampai datang hari kiamat.”

Di antara kisah dan kejadian unik yang ditayangkan dalam Alquran adalah kisah burung Hud-hud dengan nabi Sulaiman a.s. Seekor burung hud-hud yang melakukan kerja dakwah tanpa ada perintah terlebih dahulu. Ia mengintai suatu aktivitas suatu kaum yang dengan sebab kabar itulah, segolongan umat mendapat hidayah Allah, masuk ke dalam agama Islam.

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لاَ أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ. لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَاباً شَدِيداً أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ. فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَأٍ بِنَبَأٍ يَقِينٍ. إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.”Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (An-Naml:22-23)

Tindakan burung Hud-hud janganlah dijadikan dalil untuk tasayyub (lepas kontrol), tetapi harus dipahami dengan positif bahwa yang dilakukan burung Hud-hud merupakan tindakan memanfaatkan furshah untuk menjalankan misi dakwah. Dakwah yang diawali dengan mengetahui keadaan spiritual mereka.

Burung Hu-hud tidak keluar dari tujuan jamaah dan sarananya, juga tidak melanggar prinsip-prinsip umum atau mengabaikan perintah lainnya yang lebih utama, tetapi kisah tersebut menunjukkan bahwa pada diri prajurit terdapat ciri yaqzhah (selalu sadar akan misi), diqqah (teliti) dalam beramal dan semangat untuk menyadarkan kaum. Juga menunjukkan bahwa pada diri pemimpin terdapat sifat atau sikap kontrol, ketegasan pemimpin dan penyelesaian yang tidak sembrono.

Kecerdasan dan kecemerlangan berfikir burung Hud-hud tersebut telah ia manfaatkan untuk mengambil kesempatan untuk mencari berita dan kabar suatu kaum karena ia berkeinginan untuk menyampaikan risalah Islam kepada mereka, mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah diserta dengan tindakan yang bijak, presentasi yang gemilang serta keberanian dalam mengemukakan uzur.

Kisah ini banyak mengandung pelajaran untuk para dai dan para mas-ul atau murabbi, di antaranya:

1. Seorang dai tentu lebih mulia dari seekor burung Hud-hud yang memiliki inisiatif positif dan mencari-cari kebaikan. Seorang dai lagi mukmin lebih terpanggil untuk berinisiatif dan melakukan perbuatan baik tanpa harus meninggu perintah.

2. Memandang kepada para pemimping dakwah bahwa tidak seluruh rencana dan program dapat dikerjakan dan dapat dimutabaahi, karena itu pengarahan terhadap semua perintah dan kebijakan adalah lebih diutamakan. Kita dapat menyimak bahwa Nabi Sulaiman a.s. yang dikuatkan dengan wahyu Allah dan ditundukkan untuknya jinn dan burung-burung tidak mampu mengetahui semua perkara dan tidak mampu menyerap semua informasi. Karenanya ia memerlukan sedikit informasi dari burung yang kecil yang secara positif merupakan masukan besar bagi dakwah.

3. Dari kisah tersebut kita menyaksikan pengecekkan atas keterlambatan burung Hud-hud. Dengan sikap ijabiyah (positif) yang dikembangkan burung Hud-hud, maka alasannya itu diterima. Di lain pihak, قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (النمل:27) (Sulaiman berkata, “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.) menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus menerima alasan keterlambatan tersebut dan membatalkan hukuman yang telah ia janjikan karena alasan burung itu. Alasan burung Hud-hud tersebut mengandung ihtimal benar dan dusta.

Tetapi kenyataannya adalah bahwa yang dikabarkan oleh burung hud-hud adalah benar dan dari kabar itulah nabi Sulaiman a.s. kemudian menyerukan untuk berjihad.

4. Dari kisah tersebut kita dapat melihat adanya i’tidzar lil qa-id fi ada-il wajib. Jika kita jadikan kisah ini sebagai amal ijabi, maka kita akan melihat bahwa dalam ma’dzirah dan i’tidzar terdapat sesuatu yang berharga, ketika pengetahuan burung Hud-hud memberikan manfaat kepada pemimpin, nabi Sulaiman yang mempunyai segala jenis kekuatan. Bahkan burung Hud-hud tersebut menyampaikan dengan ta’bir naba yaqin (berita penting dan besar yang diyakini kebenarannya), suatu jenis kekuatan yang dimiliki burung Hud-hud ketika menyampaikan alasan keterlambatannya di hapapan kekuasaan nabi Sulaiman yang telah berniat akan menyiksa dengan siksaan yang pedih atau ia akan menyembelihnya.

Suatu kekuatan yang dimiliki burung Hud-hud yang digunakan secara positif untuk taat kepada pemimpin, kekuatan ilmu pengetahuan. Sehingga ia selamat dari hukuman berupa siksaan dan penyembelihan dengan ilmu pengetahuan.

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَأٍ بِنَبَأٍ يَقِينٍ

“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (An-Naml: 22)

Keberanian burung Hud-hud untuk berbicara kepada nabi Sulaiman a.s. karena kabar yang dibawa burung Hud-hud merupakan kabar penting dan nabi Sulaiman a.s. belum mempunyai kabar tersebut. Kalaulah ia terlambat tanpa ada hal yang akan ia sampaikan, maka dengan kelemahannya dari segala hal, maka ia tidak akan mampu untuk berbicara dari lantang di hadapan pemimpinnya.

Kalaulah bukan karena ijabiyah burung Hud-hud, maka uzur dan alasan burung Hud-hud pasti tidak akan diterima, karena keintisaban kita kepada jamaah menuntut kita untuk melaksanakan amal dan kerja sebaik mungkin dalam kerangka mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Tidak menjadi keharusan seorang dai atau bawahan atau binaan atau anggota jamaah melaksanakan perintah saja, tetapi amal dan kerja yang dilakukan harus ijabi atau memiliki bobot yang memadai untuk tercapainya tujuan dakwah dan tarbiyah.

5. Kita sebagai dai dapat menyimpulkan sebagai pelajaran buat kita bahwa hudhur yang dapat menyelamatkan kita dari uzur kita di hadapan qaid, mas-ul, naqib atau murabbi adalah hudhur da’wi tarbawi. Sejalan dengan semangat kita untuk meningkatkan mutu diri dan memperbanyak kader baru dengan segala jenis tajnid, maka kita dituntut untuk selalu hadhir secara da’wiyan dan tarbawiyan, bukan hanya kehadiran di jilsah atau di halaqah atau di usrah atau di ijtima’. Kita seharusnya selalu hadir dalam segala aktivitas da’wah dan tarbiyah. Boleh jadi seseorang tidak pernah absen untuk hadir di setiap pertemuan, akan tetapi keikutsertaannya di setiap aktivitas sangatlah minim atau ia sendiri tidak ada inisiatif positif untuk melakukan aktivitas da’wah dan tarbiyah. Karenanya di antara ijabiyah seorang pemimpin, mas-ul, naqib atau murabbi adalah memperhatikan dan mengontrol a’dha dan binaannya agar kehadirannya dalam da’wah dan tarbiyah tidak pernah absen. Karena itu kalaupun ia uzur untuk hadir di ijtima’, atau di usrah atau di halaqah karena alasan syar’i, maka tidak serta merta disimpulkan sebagai ketidakhadirannya dalam da’wah, sebelum dilihat kehadirannya pada aktivitas da’wah dan tarbiyah lainnya.

6. Untuk para mas-ulin dan qiyadiyyin juga dapat mengambil beberapa pelajaran yang dapat dicermati dan diperhatikan dari sikap dan respon Nabi Sulaiman terhadap kerja burung Hud-hud. Di antara pelajaran yang dapat kita ambil dari sikap Nabi Sulaiman a.s. adalah:

a. Tafaqqudul amiir lil atba’ (rasa kehilangan seorang pemimpin terhadap pengikutnya). Seorang mas-ul harus memperhatikan siapa yang tidak hadir dalam setiap pertemuan dan kegiatan. Karena perhatiannya terhadap kehadiran binaannya merupakan bagian dari mas-uliyah yang harus diemban. Nabi Sulaiman a.s. mempertanyakan ketidakhadiran burung Hud-hud dalam ijtima’

b. Akhdzul amri bil hazm (sangat perhatian terhadap perkara). Seorang pemimpin harus memiliki haibah di hadapan atba’nya dengan menyatakan sikap tegasnya di hadapan pengikutnya.

c. Muhasabah (evaluasi). Seorang mas-ul harus berinisiatif untuk mengevaluasi proses tarbiyah dan hasil perjalanan tarbiyah yang ia lakukan.

d. Tabayyunul ‘udzr (klarifikasi uzur). Mengklarifikasi alasan keuzuran binaan agar penyikapan dan perlakukan yang akan diambil lebih berdampak positif.

7. Dengan kerja yang kelihatannya kecil, hanya sekadar mengetahui keadaan dan kondisi keagamaan suatu kaum, dapat menghasilkan prestasi besar, yaitu keislaman Ratu dan rakyatnya, tunduk untuk beribadah kepada Allah bersama nabi Sulaiman a.s.

Karena itu pula dalam dunia peradaban materi kita melihat banyak karya dan hasil penemuan besar awalnya dirintis oleh kerja dan inisiatif satu orang. Hasil kerja seorang ini kemudian didukung dan didanai oleh kelompok atau negara. Seperti penemuan sepeda, lalu mesin cetak, telegraf, bola lampu dan lain-lain. Demikan pula dalam medan dakwah, banyak yang awalnya merupakan terobosan pribadi kemudian menjadi garapan jamaah.

Jadi dengan sikap ijabiyah seorang dai, akan banyak amal Islam yang dapat dihasilkan seiring dengan hasil yang gemilang. Di antaranya adalah dengan merasa kurang di hadapan Allah dalam menjalankan semua kewajiban yang telah dibebankan kepadanya, maka akan muncul rasa pada diri seorang mukmin untuk berusaha mengerjakan satu kewajiban dengan sebaik-baiknya dan dengan niat yang lurus. Dengan demikian ia telah mengerti maksud dari taklif Allah, yaitu agar manusia berusaha membaguskan amalnya dengan cara meluruskan niat dan menyesuaikan segala perbuatan dan ibadahnya sesuai dengan syariat.

Dalam hal ini, para ulama memberikan dua syarat suatu perbuatan dikatakan amal shaleh. Syarat pertama adalah muwafaqah lis syar’i (sesuai dengan tuntanan syariat Islam) dan yang kedua adalah ikhlash liwajhillah wahdah (semata-mata dilakukan karena mengharapkan ridha Allah).

Di antara sikap ijabiyah adalah tidak meremehkan perkara kecil, karena seringkali sesuatu yang besar menjadi kecil nilainya karena niat yang kurang ikhlas dan kadang beberapa kalimat akan mendatangkan kebaikan yang banyak karena niat dan keluar dari hati yang tulus. Pernah seorang ulama ditanya, “Sampai kapan Anda terus menulis hadits? Lalu ia menjawab, “Mungkin kalimat yang akan menyelamatkanku masih belum aku tulis.”

Untuk menunjukkan betapa perkara ringan itu tidak boleh dianggap ringan, Rasulullah saw. menegaskan bahwa banyak perkara ringan atau sepele, tetapi di sisi Allah mempunyai bobot pahala dan kebaikan bagi yang melakukannya.

عن أَبِي ذَرّ قالَ قالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: تَبَسّمُكَ في وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالمَعْروفِ ونهيُكَ عن المُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وإِرْشَادُكَ الرّجُلَ في أَرْضِ الضّلاَلِ لَكَ صَدَقَةٌ، وبَصَرُكَ لِلرّجُلِ الرّدِيءِ البَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ، وإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ والشّوْكَ والعَظْمَ عن الطّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ، وإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ في دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَة

Dari Abu Dzar r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu, perintahmu mengerjakan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sedekah bagimu, kamu menunjuki orang yang tersesat juga merupakan sedekah bagimu, membantu orang yang kurang penglihatannya juga merupakan sedekah bagimu, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan juga merupakan sedekah bagimu, kamu menuangkan air dari timbamu ke timba saudaramu juga merupakan sedekah bagimu.” (H.R. Bukhari dan Tirmidzi)

Allah juga berfirman dalam surah Az-Zalzalah ayat 7-8,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8)

-www.al-ikhwan.net-

Rasulullah saw sang teladan .. ujian, cobaan dan rintangan

oleh : DR. Muhammad Badi

Dalam memperingati hari kelahiran Rasulullah saw, sebagai bagian dari rahmat Allah bagi semesta alam dan teladan bagi seluruh manusia; yang akan kita bahas -dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya- pada dua risalah yang saling melengkapi; pertama; Bagaimana Rasulullah saw menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, dan yang kedua: Nabi teladan dan pembawa kabar gembira.

Pertama: ujian, cobaan dan rintangan

Ketika kita merenungkan ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang ujian, cobaan dan rintangan yang dihadapi oleh para nabi dan rasul, maka kita akan menemukan bahwa hal tersebut merupakan sunnah yang tidak pernah menyimpang dan lepas; bahwa mereka sebagai makhluk yang mulia dan kelompok yang dimuliakan oleh Allah adalah sebagai kelompok yang akan terus mendapatkan ujian yang begitu keras “kepada para nabi, kemudian yang serupa dengannya”.

Bahwa ujian, cobaan dan rintangan banyak ragamnya dan sangat bervariasi atas setiap nabi dan Rasul Allah, terutama -yang merupakan puncak dari semuanya- adalah atas Nabi tercinta Muhammad saw; betapa banyak dan beragam ujian dan cobaan yang beliau hadapi yang tidak dirasakan oleh orang lain; agar menjadi contoh yang dominan dan teladan yang baik bagi semua orang yang sedang menghadapi berbagai ujian dan cobaan, bagi semua yang tertindas dan semua orang yang didustakan dan disiksa ..

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab:21)

Beliau –nabi saw- mengalami masa ujian yang banyak ragamnya; yatim piatu sejak kecil, terasing sejak masa kanak-kanak; kondisi miskin sampai ia harus menjadi penggembala kambing; kemudian penderitaan bertambah sejak kakeknya, pamannya, Isrinya, anak laki-lakinya meninggal, begitu pula dengan anak-anak wanitanya; ujian dalam mengemban amanah risalah; ujian menghadapi beratnya hambatan, pengingkaran, pelecehan dan dilempari dengan batu, dilempari kotoran; ujian dan siksaan terhadap para pengikutnya dengan berbagai macam bentuknya; blockade, embargo dan penjara sehingga “tidak ada makanan yang dapat mereka makan kecuali daun kering yang dapat melukai tenggorokan”, semua itu tidak pernah terjadi dalam penjara apapun pada saat ini.

Para sahabat banyak yang memohon kepadanya untuk bermunajat dan berdoa, dengan harapan doa beliau akan dikabulkan dan mampu mengangkat penderitaan yang mereka alami, hal itu mungkin saja terjadi sekiranya nabi saw tidak menyadari bahwa kondisi seperti adalah sunnatullah bagi para pengemban dakwah; sebagaimana yang difirmankan Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah:155)

Siapakah mereka?!

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (Al-Baqarah:156),

Maksudnya adalah bahwa kita dan apa yang kita miliki adalah milik Allah semata, kita semua dan apa yang ada di tangan kita merupakan pinjaman yang harus dikembalikan dan akan diambil oleh pemilik-nya kapan saja yang Dia Kehendaki. Oleh karena itu pula, nabi saw menjadikan para sahabat sebagai contoh, sebagai contoh paling sulit dari apa yang mereka alami berupa penyiksaan dan penganiayaan, sepereti halnya yang pernah dialami oleh nabi Isa putra Maryam AS; untuk meyakinkan mereka bahwa dakwah membutuhkan pengorbanan dan nilai yang sangat berharga yaitu surga bagi siapa yang ingin menjual jiwanya dengan mengharap ridha Allah, karena itulah harta milik Alllah sangatlah mahal, dan tidak ada yang dapat mereka lakukan sabar dan teguh sampai Allah menampilkan agama ini atau binasa yang lainnya.

Allah telah memberikan peringatkan kepada Nabi saw –begitupula kita setelahnya:

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka..” (Al-Maidah:49)

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)”. (Al-Qalam:9)

Karena itu, dari sinilah dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang mendasar, ustadz Al-Banna mengajarkan kepada kita bahwa yang menimpa diri kita dalam menempuh jalan dakwah ini tidak lain kecuali merupakan pertanda akan bersihnya jalan ini dan benarnya arah jalan ini..

سَتُسْجَنُوْنَ وَتُشَرَّدُوْنَ وَتُنْقََلُوْنَ وَتُصَادَرُ أَمْوَالُكُمْ، وَسَيَسْتَغْرِبُوْنَ فَهْمَكُمْ لِلإِسْلاَمِ عِنْدَهاَ تَكُوْنُوْنَ قَدْ بَدَأتُمْ تَسْلُكُوْنَ سَبِيَلَ أَصْحَابِ الدَّعَوَاتِ

“Kalian akan dipenjara, diterlantarkan, di deportasi dan dirampas harta kalian, mereka akan terus berusaha membuat kalian asing dengan pemahaman akan Islam kalian yang dengan itulah kalian telah memulai jalan melintasi jalan pemilik dakwah”

Sehingga tidak ada seorangpun yang menduga bahwa ujian dan rintangan ini sebabnya adalah karena kita telah masuk ke ranah politik, bahwa kita ikut berkompetisi di dalam pemilu, bahwa jika berhenti dari hal tersebut dan cukupkan diri kita dan peran kita dalam kerja dakwah dan tarbiyah maka kita dan ikhwan serta jamaah kita akan selamat dari berbagai kezhaliman, penyiksaan, penjara, penangkapan, perampasan harta, terror terhadap anak, istri, orang-tua dan ibu.

Inilah wahm; karena mereka tidaklah memerangi kita karena kita berada di puncak politik atau parlemen, persatuan-persatuan para ahli dan kluk olar raga, tidak hanya itu.. demi Allah sekiranya kita tinggalkan mereka dan urusan mereka maka mereka tidak akan tinggal diam meninggalkan kita dan urusan kita. Bahwa alasan utama dan hakiki adalah karena kebenaran yang kita bawa, tentang Islam yang komprehensif yang selalu kita dengungkan dan serukan kepadanya seperti yang disampaikan oleh Waraqah bin Naufal, sepupu Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid kepada Rasulullah saw: “Tidak ada seorangpun memiliki seperti yang engkau bawa kecuali akan mengalami ujian?

Kita dan mereka berada dalam satu kapal yang mencoba merusaknya, dan tugas kita adalah mencegahnya dari melakukan kerusakan sehingga kita selamat dan mereka ikut selamat bersama kita jika mereka mau menerima seruan kita.

Demikianlah siti Khadijah yang memiliki wawasan yang luas, dan dianugrahkan hikmah, beliau berkata bahwa nabi saw “akan memuliakan tamu, menjalin silaturrahim, menanggung beban, selalu membantu sepanjang usianya, dan memberikan kemenangan bagi orang-orang yang tertindas,” dan kita berusaha menghadirkan apa yang telah diperintahkan oleh Islam kepada kita, dan apa yang disuguhkan oleh teladan kita Rasulullah saw tentang perbuatan-perbuatan baik dan kebajikan, dan itu semua tidak menambah leluasa kecuali tekanan, penutupan sekolah-sekolah kita, penyitaan kantor-kantor sosial kita dan klinik-klinik kita yang selalu memberikan dan menawarkan kebaikan, kebajikan dan pengobatan bagi semua umat, Muslim dan Kristen.

Beliau –siti khadijah- juga yang meyakinkan Rasulullah saw dan meyakinkan kita semua setelah itu selama kita melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah yang mulia;

وَاللهِ لَنْ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا

“Demi Allah, Allah tidak akan mengabaikan dirimu selamanya”;

Karena hal tersebut merupakan sunnah Ilahiah, bahwa siapa yang melakukannya akan dimusuhi oleh orang-orang para pembawa kebatilan dan tentara pengikut setan, namun akhir dari itu selamanya milik orang-orang yang bertaqwa, dan hal tersebut telah muncul dan akan terus berlanjut.

Bahwa perhatian utama yang dilakukan Rasulullah saw adalah mencari benteng dakwah dan melindunginya, bukan untuk mencari selamat dirinya dari berbagai siksaan dan ujian “Siapa yang melindungiku hingga aku dapat menyampaikan dakwah Rabb-ku “… “Sampai Allah memenangkannya atau menghancurkan selainnya” ; karena itulah seruan yang selalu disenandungkan adalah “Jihad jalan kami” dengan berbagai macam bentuknya dan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang ada dalam jamaah kami; dan dialah -jihad- puncak kemuliaan Islam, dan yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran (saja) dihadapan penguasa yang zhalim, lihatlah bagaimana nilai kebenaran disisi Allah bagaimanapun hasilnya, walaupun harus nyawa taruhannya, dan pada saat itu merupakan puncak kematian di jalan Allah – bagaimanapun kondisi dan dimanapun tempatnya- merupakan cita-cita kami.

Seolah-olah Rasulullah saw dalam sejarahnya yang mulia dan indah berkata kepada kita dengan nyata: Apakah Anda berpikir bahwa segala ujian dan cobaan akan berhenti, bahkan hingga kejayaan dan berdirinya sebuah negara Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw sekalipun? Bukankah ini yang terjadi .. Ya.. bahwa cobaan adalah cobaan dan ujian adalah ujian,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”. ((Al-Imran: 142),

dan hasilnya adalah sama dengan hasilnya; barangsiapa yang menjual dirinya dan hartanya kepada Allah dan tidak mengkritik Allah bagaimana dan kapan dapat mengambil atau mengambil sebagiannya, karena kita semua seluruhnya pasti akan kembali kepada Allah.

Demikianlah Rasulullah saw yang Allahtelah berikan kejayaan kepadanya dan kepada para sahabatnya walau harus mengahadapi berbagai ujian dan cobaan hingga menemui Tuhannya; beliau mengalami patah tulang rusuknya dan terluka wajahnya, bahkan tergores luka dipipinya yang mulia, semua ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi umat. Dan ujian yang terbesar adalah yang ada pada jiwa orang-orang yang menyebabkan tersakitinya Rasulullah saw dari pasukan pemanah yang telah melanggar perintahnya.

Bahkan apa yang paling menyakitkan dari orang-orang yang beriman dengan tulus yang melawan padadi Madinah dengan berbagai permasalahannya terutama pada saat mulai terbukanya dunia atas mereka. Tidak ada jeda waktu untuk istirahat bagi orang yang beriman dari berbagai macam dan bentuk ujian kecuali Allah SWT telah memberikan kepada mereka keteguhan bagaimanapun bentuknya.

Nabi dan para sahabat tidak berubah dan berganti -saat menghadapi ujian dan rintangan serta cobaan- hingga menemui Tuhannya dan Allah ridha kepadanya, dan waktu istirahatnya adalah pada saat berjumpa dengan Tuhannya.

Beliau telah melewati bersama umat Islam kurang lebih 30 peperangan dan ekspedisi hanya dalam kurun waktu 10 tahun saja. Dan pada sakitnya beliau juga merasakan sakit dan sangat terkesan akan keletihan dan susah payah, menderita efek dari racun diklakukan oleh seorang Yahudi setiap tahun pada waktu yang sama.

Saya sampaikan secara rahasia kepada setiap telinga akh yang tercinta akan firman Allah SWT:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلاً

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (An-Nisa:83)

Tidak ada seorangpun yang menghalangi anda untuk berfikir yang lebih baik, karena berfikir dan bertafakkur adalah kewajiban yang terdapat di dalamnya balasan dan pahala.

Betul wahai akhi, tidak mengapa memberikan usulan kepada Rasulullah saw, karena beliaulah yang mengajarkan dan memotivasi kita, namun sampaikan usulan anda kepada qiyadah sampai dilakukan syura yang penuh berkah dan memberikan solusinya. Bahwa sebagian sahabat selalu mengatakan inilah pendapatku dan aku berharap agar tidak dijadikan sebagai keputusan lalu diamalkan; karena takut menjadi riya dan sombong lalu menghilangkan pahala, namun setelah diambil keputusan

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Ali Imran:159)

Kepada kalian wahai para ikhwah yang tercinta, terutama yang berada di balik jeruji besi

Sungguh telah terdapat dalam jiwa Rasulullah saw teladan yang baik, dan itu telah tertanam dalam jiwa kalian, karena itu bersabarlah dan berharaplah kebaikan darinya, dan bayangkanlah akan nikmatnya ganjaran niscaya akan melupakan kalian pahitnya kesabaran, dan dalam waktu dekat -Insya Allah- kalian akan mengatakan telah hilang penjara, leher telah basah dan ditetapkan ganjaran Insya Allah.

Pandanglah pada agama kalian orang yang paling tinggi dari kalian dan pandanglah duniawi kalian pada orang yang paling bawah dari kalian, niscaya Allah akan menuliskan kepada kalian derajat orang-orang yang sabar dan orang-orang yang pandai bersyukur. Semoga Allah membukakan kesedihan kalian dan penderitaan ikhwan kalian, bahkan kepada para akhwat yang tertawan dan berada di penjara-penjara zionis perampas bumi Palestina, dan orang-orang yang berada di belakang kalian, dibelakang mereka dan dibelakang akhwat dalam keluarga, anak dan dakwah telah meninggalkan warisan yang terbaik seperti yang telah ditinggalkan oleh hamba-hamba-Nya yang salih..

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ . نُزُلاً مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”. (Fushilat:31-32)

وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf:21)

Positiveness dan Akibat Melubangi Kapal

Positiveness perseorangan merupakan sesuatu yang terpuji jika dituangkan dalam positiveness jamaah. Kharizma perseorangan merupakan tuntutan jika memberi sumbangan dalam membangun kharizma organisasi. Dalam rangka mempersofikasi nilai-nilai ini, Rasulullah SAW menyuguhkan perumpamaan indah kepada kita yang menggambarkan adanya tanazu’ (tarik menarik, kontradiksi) antara positiveness perseorangan dan positiveness jamaah. Beliau juga menyuguhkan ‘ilaj nabawi yang mujarab yang meleburkan egoisme perseorangan ke dalam kemanfaatan organisasional, yang bertolak dari munthalaq tarbawi yang memberikan hak pribadi secara sempurna dan tanpa dikurangi, namun sekaligus menggebuk tangan pribadi itu dengan kuat jika thumuhat (obsesi)-nya menjadi besar yang berakibat melampaui legalitas jamaah dan hak jamaah dalam merealisasikan hasil-hasil umumnya.

Empat Peringatan:

Tidak ada seorang pun hidup di alam ini sendirian, walaupun ia dipenjara seorang diri di dalam sebuah sel gelap. Setiap individu hendaklah memahami bahwa Allah SWT menciptakan manusia agar saling ta’aruf (mengenal), ta’awun (bantu membantu), tadhamun (solider) dan sebagian mereka memberikan khidmah (pelayanan) kepada yang lain.

Sebagian manusia terhadap yang lainnya

Baik Arab maupun non Arab

Saling memberikan khidmah

Walaupun tidak mereka rasa

(Sebagaimana pernyataan seorang penyair)

Hanya saja, sebagian individu mempunyai ego berlebih, mereka selalu merasa –menurut diri mereka sendiri- yang terbaik, paling afdhal, paling pinter, dan paling berhak –dibanding yang ada- untuk menjadi qiyadah, pelopor, memberi kesaksian, dan memimpin, termasuk kalau saja kapasitas mereka belum sampai pada level berbagai tanggung jawab ini, bahasa hal-nya selalu mengatakan –di mana pun- pernyataan yang pernah dilontarkan oleh professor filsafat egoisme, yaitu Iblis saat mengira bahwa unsur api lebih baik daripada unsur tanah, maka ia berkata, “aku lebih baik dari padanya (Adam AS), Engkau ciptakan aku dari api, sementara Engkau ciptakan dia (Adam AS) dari tanah”. [Al-A'raf: 12], [Shad: 76].

Termasuk walaupun ia tidak memaksudkan khairiyah (sisi unggul kebaikan)-nya dalam arti unsur, sebab ia meyakini dalam dirinya al-khairiyah al-hadhariyyah (sisi kebaikan peradaban) yang memberinya kelayakan untuk memunculkan berbagai cara kreatif dalam menyelesaikan berbagai problem dan melewati berbagai aqabat (rintangan) sebagaimana yang “diusulkan” oleh salah seorang penumpang kapal yang digambarkan dalam hadits Nabi SAW, yaitu dari An-Nu’man bin Basyir RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Perumpamaan seseorang yang komitmen berada dalam batas-batas Allah dan yang terperosok ke dalamnya adalah semisal satu kaum yang mengundi pada sebuah kapal, maka sebagian mereka mendapatkan tempat di bagian atas kapal dan sebagiannya mendapatkan bagian di bagian bawah kapal. Orang-orang yang berada pada bagian bawah kapal, jika mengambil air mesti melewati orang-orang yang berada di bagian atas, lalu mereka berkata: ‘kalau saja kita membuat lubang pada jatah kita, sehingga kita tidak mengganggu yang di atas kita’, maka, jika mereka membiarkan maksud membuat lubang itu, niscaya seluruh penumpang kapal akan celaka, dan jika mereka memegang tangan yang bermaksud membuat lubang itu, niscaya mereka yang membuat lubang selamat dan selamat pula seluruh penumpang kapal”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika berbagai riwayat hadits ini kita himpun –dengan perbedaan redaksinya, namun tetap menegaskan satu makna- kita akan melihat satu “kanvas kenabian” yang indah yang memuat puluhan pelajaran tarbawi yang hari ini sangat kita perlukan, namun, saya hanya akan memberikan isyarat kepada empat pelajaran saja yang secara langsung mempunyai hubungan dengan tema ijabiyah, sementara pelajaran-pelajaran lain kita tinggalkan terlebih dahulu sampai datang momentumnya yang tepat pada kesempatan yang lain.

Pelajaran I: Anda Menjadi Penumpang Bersama Kami

Ya, semua kita adalah musafir, dan semua kita adalah penumpang sebuah kapal. Sangat tidak logis kalau kapal itu tidak memiliki nakhoda. Dan menjadi suatu bentuk kegilaan dan kepandiran jika nakhoda kapal itu lebih dari satu, “Jika di langit dan di bumi ada banyak Tuhan selain Allah, hancur binasalah langit dan bumi itu”. Dan sudah menjadi sunnatullah, musafir itu berbeda-beda kelasnya, kelas I, II, III dan kelas terakhir. Posisinya pun juga berbeda, ada yang di depan, belakang, sisi kanan, sisi kiri, tengah, di atas dan di bawah. Service dan fungsinya juga berbeda, ada nakhoda, pembantu nakhoda, penanggung jawab kenyamanan penumpang, distributor koran, makanan dan minuman, security, pengatur lalu lintas perjalanan di dalam kapal, … dst.

Ada juga penumpang yang memanfaatkan waktu luang perjalanan untuk “menjual” berbagai hadiah. Ada juga yang memanfaatkan keberadaan “beberapa tokoh terkenal” untuk berkenalan dengan mereka, tukar menukar kartu nama, nomor telepon, dan alamat tinggal. Ada juga yang sedang bernasib mujur, maka ia dapatkan seorang “tetangga” yang merupakan peluang seumur hidup, lalu ia tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dan seterusnya.

Yang penting, semua itu tadi adalah logis dan dapat diterima, dan semua itu merupakan tabiat sebuah perjalanan dan konsekuensi dari ta’aruf dan manfaat lain dari sebuah perjalanan.

Hanya saja ada sebagian penumpang yang memiliki ego berlebih yang melampaui semua hal yang wajar dan maqbul tadi, di mana ia melakukan berbagai percobaan untuk memaksakan “keinginannya” kepada semua penumpang, termasuk kepada kru kapal. Upaya-upaya kekanak-kanakan ini seringkali tampil dalam berbagai bentuk, namun, intinya sama, yaitu: mengganggu kenyamanan kehidupan orang-orang yang sedang bepergian. Di antara bentuk-bentuk ini ialah:

• Percobaan menyusup ke dalam kabin kendali untuk mengganggu nakhoda dan berusaha ikut terlibat dalam mengendalikan kapal, pertama dengan cara ngledek sang nakhoda sebagai pimpinan yang gagal …
• Berusaha menempati kursi yang bukan haknya, misalnya ingin menduduki kelas I. tujuannya adalah untuk menciptakan kekacauan dalam organisasi kapal. Juga untuk menanamkan kesan negatif terhadap kemampuan pengelola kapal dalam menunaikan hak kepada yang empunya .. dan juga dalam menempatkan penumpang sesuai dengan kelasnya ..
• Berusaha melubangi kapal untuk mengambil air dengan mudah dari bawah kakinya, agar ia tidak capek-capek naik turun untuk keperluan air ini …
• Mondar mandir secara mencolok di antara para penumpang, berjalan ke sana kemari, menimbulkan berbagai suara gaduh, mengarang berbagai cerita dan mengobral berbagai isu untuk menciptakan kekacauan di tengah-tengah penumpang, dan terkadang sampai ke tingkat menciptakan tasykik (keraguan) tentang keselamatan kapal, atau tasykik tentang kemampuan dan kecakapan sang nakhoda dan kru-nya, atau tasykik terhadap peta perjalanan, arah yang dituju, posisi dan tujuan .. yang intinya adalah mengesankan kepada para penumpang bahwa perjalanan yang ditempuh telah mengalami inhiraf (penyimpangan) dari jalur yang seharusnya ditempuh … dst.

Banyak upaya dilakukan, yang terpenting bagi kita adalah nash (teks) yang ada dalam hadits nabi yang menjadi kajian kita, yang intinya adalah bahwa pemilik gagasan “membuat lubang” lupa bahwa ada ribuan penumpang bersama dengannya dalam point yang disebutnya jatah-nya itu. Padahal, kursi yang Anda duduki bukanlah milik Anda secara utuh. Dan Anda tidak memiliki kebebasan mutlak yang bisa seenaknya menyelonjorkan kaki, sehingga mengganggu yang di belakang Anda, depan Anda, dan samping Anda, yang mana mereka juga memiliki “hak” atas lokasi yang telah disediakan untuk setiap penumpang.

Hadits nabi menyatakan, “Lalu mereka berkata: ‘kalau saja kita membuat lubang pada jatah kita…’. Pertanyaannya: adakah seorang penumpang bersama jamaah mempunyai jatah? Khusus dalam sebuah kendaraan perjalanan? Dan apakah seseorang yang tanggung jawabnya adalah menakhodai kapal, mencukupkan diri dengan sekedar memegang kendali kemudi, menginjak pedal gas dan ream? Adakah orang yang bertanggung jawab atas makanan dan minuman penumpang cukup membagikannya kepada kelas I saja? Adakah termasuk hikmah jika para penumpang mendiamkan saja sikap orang-orang yang ingin melubangi kapal, lubang pada titik yang diyakininya sebagai jatah-nya itu dengan alasan supaya tidak mengganggu penumpang yang di atasnya atau yang berada di sampingnya?

Jawaban atas berbagai pertanyaan ini datang dalam sebuah kalimat yang sangat mendalam dari sang murabbi pertama, yaitu Rasulullah SAW, saat beliau bersabda, “ maka, jika mereka memegang tangan yang bermaksud membuat lubang itu, niscaya mereka yang membuat lubang selamat dan selamat pula seluruh penumpang kapal”

Subhanallah!!

• Mereka telah menyelamatkannya, dengan cara memegang tangan yang bermaksud membuat lubang dan mencegahnya melakukan pelubangan. Dan dengan cara ini, mereka telah menyelamatkan diri mereka, dengan sebuah kerja ta’awun
• Namun, jika mereka diam (membiarkan), mungkin karena takut, atau tamak, maka pembiaran ini akan mencelakakan sang pelaku pelubangan dan berdampak pula bagi kecelakaan yang lainnya, sebab mereka menumpang di kapal yang sama

Tidakkah sudah saya katakan: Kita ini menumpang satu kapal? Tidakkah telah aku katakan: Pukul tangan setiap orang yang bermaksud membuat lubang dalam kapal, maka, dengan memukul ini akan terwujudlah kemaslahatannya dan kemaslahatan semua penumpang?! Kemudian yang terakhir, tidakkah telah aku katakan kepada pemilik gagasan melubangi kapal: Bahwa kami menjadi penumpang bersamaku wahai saudaraku, dan engkau pun menjadi penumpang bersama kami wahai saudaraku!

Pelajaran II: Mas-ul Perjalanan Tidak Sama Dengan Penumpang

Ada perbedaan mencolok antara mas-ul perjalanan dengan penumpang.

Bagi penumpang, yang terpenting baginya adalah tiga hal asasi, sebab ia inilah haknya, sedangkan selebihnya bersifat tambahan

1. Yang terpenting baginya adalah mendapatkan kenyamanan dalam perjalanan, baik dari sisi rehat maupun service.

2. Yang terpenting baginya adalah semua haknya terpenuhi, dimulai dari hak atas tempat duduknya yang sah

3. Yang terpenting baginya adalah sampai ke tujuan dengan selamat dan membawa keberuntungan

Jika pengelola perjalanan berbaik hati memberikan tambahan service, lalu mereka memberikan berbagai hadiah, peta negara tujuan, bantuan money changer, alamat berbagai hotel dan tempat-tempat wisata dan budaya … dst, maka semua ini lebih baik dan menarik simpati pelanggan baru, dan bisa jadi hal ini menjadi model iklan yang membuat sang pengelola semakin populer dan menjadi pilihan penumpang untuk perjalanan selanjutnya, jika mereka terus menjaga kualitas pelayanan yang bagus ini.

Jika semua hal di atas adalah hak setiap penumpang, maka perlu diketahui bahwa penumpang juga memiliki kewajiban. Di antaranya: menghormati tata tertib dan aturan biro perjalanan dan cara kerjanya. Terlebih lagi adalah menghormati orang-orang yang mengorganisir perjalanan mereka dan juga kepada mereka yang memberikan pelayanan kepada seluruh penumpang. Juga kepada mereka yang bertanggung jawab atas kenyamanan dan keamanan perjalanan mereka … agar aspek keamanan dan kenyamanan dapat direalisasikan

Jika muncul dari para penumpang –walaupun dari kelas I- orang yang bermaksud merubah dirinya dari sekadar penumpang dan ingin menjadi pemilik kapal, atau ingin menjadi penanggung jawab perjalanan, sementara para pengelola kapal dan para penanggung jawab kapal dan penumpangnya diam … mendiamkan perilaku para penumpang yang bermaksud demikian tadi, niscaya akan terjadi kekacauan pada kapal, urusan menjadi bercampur baur tidak jelas, dan jadilah nasib setiap penumpang terancam tenggelam. “Dan jika mereka membiarkan orang yang bermaksud melubangi kapal itu, niscaya para penumpang kapal akan binasa, dan binasa pula mereka yang membuat lubang itu”.

Adapun kewajiban para penanggung jawab perjalanan, yaitu 3 hal tersebut di atas yang menjadi hak para penumpang, ditambah dengan dua kewajiban lainnya, sehingga totalnya menjadi lima kewajiban, yaitu:

1. Menciptakan suasana yang menyenangkan selama perjalanan, baik dari sisi rehat (kenyamanan) maupun service

2. Memberikan hak setiap penumpang, baik dari sisi tempat duduk, makanan, minuman dan istirahat.

3. Mengantarkan seluruh penumpang ke tempat tujuan.

4. Menegakkan kedisiplinan yang semestinya dan menciptakan iklim saling menghormati di antara sesama penumpang dan kru kapal

5. Berusaha semaksimal mungkin untuk mengamankan perjalanan, baik dalam cara mengemudikan kapal serta interaksi yang baik terhadap semuanya.

Namun, lima kewajiban ini harus diimbangi dengan berbagai hak, yang dengan hak-hak ini akan terciptalah suasana perjalanan yang baik, serta memberikan jaminan keamanan dan keselamatan. Di antara hak terpenting dan paling mendesak bagi pihak kru kapal adalah hendaklah setiap penumpang komitmen dengan etika perjalanan, sebab, hampir semua serikat perjalanan di seluruh dunia melarang para penumpang untuk merokok sepanjang perjalanan, sebab hal ini mengganggu para penumpang. Dan beda jauh antara gangguan yang ditimbulkan oleh asap rokok dengan gangguan yang disebabkan oleh asap fitnah!

Pelajaran III: Masyarakat Islam itu Salimus-Shadr

Kita semua berada dalam satu kapal. Bagi kita, kapal itu “milik” bersama. Karenanya, kewajiban kita yang pertama adalah menjaga kapal ini dari khuruq (infiltrasi), syuquq (perpecahan), tsuqub (lubang-lubang) dan segala upaya irbak (kekacauan), za’za’ah (mengguncang ketsiqahan) dan tasykik (upaya untuk menanamkan keraguan). Hal ini diperlukan dalam rangka menjamin terwujudnya dua sasaran besar:

1. Mengamankan perjalanan dari segala ancaman, internal dan eksternal.

2. Menjaga kapal itu sendiri dari segala bentuk khuruq atau tsuqub

Biasanya, dalam Suatu Perjalanan, Ada 3 Tipe Manusia:

1. Orang-orang yang berdiri tegak pada batas-batas Allah SWT. Bagi mereka yang terpenting adalah mashlahat umum. Semangat mereka adalah keselamatan seluruh penumpang dan keamanan mereka. Juga keselamatan dan keamanan kapal dan kru-nya. Karena inilah kita dapati mereka:

a. Tetap berjaga saat semua orang tidur. Menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar.
b. Bersemangat untuk menempatkan penumpang sesuai dengan kedudukannya.
c. Mengedepankan dan menyuguhkan berbagai pelayanan semestinya demi kenyamanan dan keselamatannya..

Tidak ada yang diinginkan dari balik semua ini, baik balasan maupun ucapan terima kasih.

2. Orang-orang yang memaksakan kehendaknya kepada seluruh penumpang, seakan-akan kapal itu adalah “milik babenya”, sementara yang lainnya mereka pandang sebagai perompak atau pencari uang. Penilaian paling mendingan dari kelompok ini terhadap para penumpang adalah “‘abiru sabil” (orang-orang yang numpang lewat). Karena inilah sepanjang perjalanan, mereka ini berjalan hilir mudik ke sana ke mari, menciptakan suasana tidak nyaman dalam kehidupan para penumpang dengan berbagai tindak tanduk yang tidak ada hubungannya dengan adab-adab perjalanan

3. Orang-orang yang diam mencari selamat. Mencoba bersikap baik dengan para kru kapal dan bersikap baik pula kepada kelompok kedua. Mereka berdiam “sabar” terhadap pihak kru di satu sisi dan terhadap perilaku kelompok kedua di sisi yang lain, sambil menunggu datangnya solusi dalam waktu dekat.

Sebenarnya, ijabiyah tidak menerima sikap “damai” dan “berbaik-baik” kecuali dalam tempo yang singkat saja, sehingga menjadi jelas, mana benang putih dan mana benang hitam. Dan sehingga diketahui hakikat dan niat kru kapal maupun kelompok kedua yang mengacau itu. Bahkan, keselamatan semua penumpang berawal dari disiplin setiap penumpang untuk duduk sesuai dengan tempat yang masih tersedia, atau sesuai dengan nomor tiket yang dibawanya, atau sesuai dengan hasil “kocok atau undi”, sebagaimana yang disebut dalam hadits, “Sesungguhnya ada satu kaum yang mengundi naik kapal”, dengan demikian, setiap tempat duduk itu menjadi definitif berdasar ketentuan “kocok atau undian”, maka, hendaklah setiap penumpang menghormati legalitas “kocok atau undian” dan ridha terhadap cara Allah SWT membagi kepadanya, sehingga kapal akan sampai daratan dengan aman.

Pelajaran IV: Titanic dan Gunung Es

Titanic adalah sebuah kapal besar. Namun, gunung es yang ada di bawahnya lebih besar. Gunung es ini telah menghancurkan kapal besar tersebut. Ini maknanya:

1. Kekuatan kapal, betapa pun ia, tidak boleh menjadikan pemiliknya terkena ghurur, lalu melajukan kapal di lautan secara membuta tanpa memprediksikan berbagai kemungkinan mendadak, di mana kekuatan itu tidak akan mampu bertahan di hadapannya. Sebab ghurur itu musuh kekuatan. Bersandar pada sarana secara menyeluruh tanpa memberi perhatian yang semestinya kepada aqidah tawakal kepada Allah, ujung-ujungnya sangatlah menyedihkan.

2. Ghaflah dari Allah SWT, bersantai-santai di atas kursi yang empuk dalam perjalanan kehidupan yang berjalan dalam hembusan angin yang baik, tidak akan berlangsung lama. Sebab, setelah angin baik tersebut akan datang badai yang membangunkan semua yang tidur, mengingatkan yang lalai, serta mencekokkan banyak pelajaran keras bagi mereka yang kegirangan dengan perhiasan dunia dan kelezatan kehidupan yang mereka miliki. Dan hal ini adalah sunnatullah pada hamba-hamba-Nya, “Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan, sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata, (mereka berkata), “Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kelaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. (Q.S. Yunus: 22 – 23)

Subhanallah ..

Inilah tabiat manusia, tidak berubah, tidak berganti dan tidak berpaling dari gaya intihazi (opportunis)-nya:

- Jika angin berhembus baik, mereka bergembira dengannya.

- Jika datang angin badai, mereka panik terhadap apa yang terjadi

Jika terkepung oleh gelombang dari berbagai penjuru, mereka ingat Allah (mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata, (mereka berkata), “Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”). (Yunus: 22).

- Jika Allah SWT berikan keselamatan, keamanan dan lolos dari mara bahaya, mereka lupa “baiat”-nya kepada Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu (wahai Muhammad) pada hakikatnya mereka berbaiat kepada Allah” (Al-Fath: 10), mereka melepaskan perjanjian mereka, berlepas dari komitmen mereka untuk bersyukur dan mengakui nikmat Allah, dan mereka bergerak di muka bumi dengan berbagai “proyek” pelanggaran hak, “ Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kelaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. (Yunus: 23)

Hasilnya sudah dapat ditebak, sebagian orang mengetahuinya dan sebagiannya lagi tidak mengetahuinya. Atas mereka tertimpa berbagai bencana di dunia, dan pada hari kiamat, hisab mereka di sisi Allah SWT sangatlah sulit, “Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kelalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kelalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Yunus: 23)

Simpulan:

Dari kisah agung ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa:

1. Setiap tempat duduk penumpang, telah ditentukan oleh hasil qur’ah (undian)
2. Setiap penumpang dalam organisasi kapal, hendaklah menerima apa pun hasil undian itu.
3. Setiap penumpang hendaklah menempati tempat duduknya sesuai dengan yang telah ditetapkan Allah SWT untuknya dan sesuai dengan angka undian yang didapatkannya dalam sebuah proses undian yang bebas.
4. Setiap penumpang hendaklah komitmen dengan adab bepergian, demi terjaminnya kenyamanan bersama
5. Sesama penumpang hendaknya saling menghormati, menghargai yang berada di atas dan juga yang berada di bawah.
6. Setiap penumpang bekerja sama dalam menggebuk tangan seseorang yang bermaksud membuat lubang kapal – sebuah perbuatan yang didasarkan pada ijtihad yang salah, namun ia menduga bahwa dengan ijtihad-nya ini ia telah berbuat baik kepada yang berada di atas dan yang berada di bawah—sebab, tidak semua ijtihad bisa diterapkan. Jika prinsip ini tidak dipahami, maka kita akan terperosok kepada ijtihad seekor beruang yang ingin mengusir lalat yang menempel di wajah anaknya, namun ia mengusirnya dengan melemparkan batu besar ke arah wajah anaknya itu (dalam sebuah kisah yang populer).

Ijabiyah yang jelas terdapat dalam kisah tarbawi yang indah ini terdapat dalam sabda Rasulullah SAW, “’kalau saja kita membuat lubang pada jatah kita, sehingga kita tidak mengganggu yang di atas kita’”. Jadi, niatnya baik, yaitu ingin menghindari gangguan, hanya saja, akibatnya sangat-sangat fatal jika semua penumpang lainnya tidak memukul dengan kuat tangan-tangan yang berusaha membuat lubang di dalam kapal, sebab yang akan binasa bukan hanya nakhoda dan kru-nya, akan tetapi, seluruh kapal akan tenggelam dengan seluruh isinya, termasuk seluruh penumpangnya.

Siapa saja yang mendengar hadits ini dan menyaksikan film Titanic, ia tidak memerlukan lagi seorang pemberi mauizhah yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya lubang satu jarum akan mampu menenggelamkan kapal segede Titanic”.

Dan bahwasanya diamnya para penumpang yang membiarkan sang pembuat lubang di dalam kapal, yang bisa jadi “dengan niat baik” itu, adalah sikap salbi (pasif) yang akibatnya juga fatal, yaitu binasanya seluruh penumpang, baik yang melubangi, maupun yang dibuatkan lubang.

La haula wala quwwata illah billah

Sumber: http://www.ikhwan.net/vb/showthread.php?t=71078

Pidato Anak Usia 12 Tahun Bikin forum PBB Terdiam

Pidato Anak Usia 12 Tahun Bikin forum PBB Terdiam
(dari millis)

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak" yg mendedikasikan diri Untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah" lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang" terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (sumber The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization

Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak" berusia 12 dan 13 tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. . Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak" yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang" yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan"nya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang" dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang" liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu". tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal" tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah" kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir..
Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenernya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki" dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu tetap saja negara" di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak" yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak" jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal . dan Cinta dan Kasih sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak" tersebut berusia sama dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak" yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak..

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak" anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak" mereka dengan mengatakan " Semuanya akan baik-baik saja ". 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan' dan ' ini bukanlah akhir dari segalanya'

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata ' kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata" mu '

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata" tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh Orang" penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..

" Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin… Saya ... tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun "

Cerita ini benar" terjadi dan pidato severn Cullis-Suzuki itu benar" pidato yang dikatakan nya dalam pidato tersebut tanpa dilebih" kan .

Apa yang anda dapat dari cerita tersebut?