Senin, 10 Januari 2011

Akan Selalu Ada Pahlawan Di Setiap Kezhaliman

Ibrahim kecil gagah menantang Raja Namruj yang tengah geram, dikelilingi sejumlah pasukan dan beberapa algojonya, Namruj bertanya, “Hai anak kecil, kamukah yang
menghancurkan patung-patung sesembahan kami?”. Dengan enteng Ibrahim berkata,
“Tanyakan saja pada patung yang lebih besar itu, mungkin dia yang melakukannya
karena kapak itu masih tergantung padanya,” ledek Ibrahim sambil menunjuk
patung yang besar yang sengaja tidak dihancurkannya. Tentu saja Raja Namruj
yang terkenal kejam itu semakin berang mendengar jawaban Ibrahim. Bukan hanya
karena merasa dipermainkan seorang anak kecil, melainkan juga, jawaban itu,
terasa menohok sisi kebodohan dirinya dan semua pengikutnya dengan menyembah
sesuatu yang tak memiliki kuasa melakukan satu apapun.

Alhasil, keberangan yang bercampur perasaan terhina Raja Namruj membuat Ibrahim
‘dihadiahi’ hukum bakar, selain karena Ibrahim adalah tersangka utama pelaku
‘teror’ terhadap tempat ibadah kaum yang dipimpin Raja Namruj itu. Namun kuasa
Allah bermain, makar apapun yang dibuat manusia takkan pernah bisa mengalahkan
makar Allah. Seganas dan semerah menyala api membakar tubuh Ibrahim kecil, tak
sedikitpun kulitnya tersentuh oleh jilatan api.

Kisah lain, Daud yang memiliki kemampuan berperang yang hebat tak gentar menghadapi pertarungan “semut lawan gajah” melawan Raja Jalut yang terkenal bengis dan kejam. Daud
yang berasal dari kalangan bawah dengan berbekal sebilah pedang tanpa baju
besi, akhirnya mampu mengalahkan Raja Jalut yang besar dengan segudang
pengalaman bertarungnya. Dalam versi barat, kisah ini dikenal dengan “David
Versus Goliath”.

Sementara itu, seorang utusan Allah lainnya, Musa dengan ditemani saudaranya Harun, menentang kekejaman ‘ayah asuhnya’ sendiri, Raja Fir’aun yang zhalim dan diktator.
Kekuasaanya yang begitu tinggi membuat Fir’aun teramat angkuh menobatkan diri
sebagai Tuhan. Kesombongan yang didukung oleh seorang ilmuan hebat bernama
Hamman dan seorang kaya bernama Qarun, jadilah ia semakin jumawa. Fir’aun yang
terkenal kejam tidak ingin seseorang kelak menghancurkannya, maka kemudian atas
perintahnya, semua bayi laki-laki yang lahir pada masa pemerintahannya pun
dibunuhi. Sekali lagi, Kuasa Allah bermain, bahwa kemudian seorang pemuda Musa
yang justru hidup di lingkungan istana Fir’aun oleh lembutnya kasih sayang
Asiah, menenggelamkan Raja zhalim itu ke dasar lautan.

Dalam khazanah barat, kita pun mengenal kisah yang hampir serupa, yakni kisah kepahlawanan
yang berasal dari orang-orang kecil yang menentang kezhaliman penguasa. Cerita
rakyat Robin Hood mungkin bisa menjadi contoh. Berjuang dari pedalaman hutan
Sherwood, Robin bersama para pengikut setianya ‘merampok’ harta para bangsawan
yang hendak menyerahkan upeti kepada King Richard The Lionheart. Otomatis,
meski makin dicintai rakyat kecil, sepak terjang si pemanah ulung itu
menempatkannya dalam daftar buronan nomor wahid di Inggris saat itu. Cerita
yang hampir sama juga dilakukan legenda Meksiko, Zorro. Dibalik topeng yang
menyembunyikan identitasnya, Zorro membantu orang-orang lemah untuk melawan dan
bangkit dari ketertindasan. Mungkin dua cerita diatas hanyalah mitos atau
sekedar cerita rekaan. Namun setidaknya memberikan satu hikmah, bahwa harus ada
orang-orang pemberani untuk melawan kezhaliman.

Nampaknya, soal keberadaan orang-orang besar yang berlaku zhalim di setiap negeri di setiap
zaman sudah menjadi sunnatullah. Hal itu ditegaskan-Nya dalam Surat Al An’aam
ayat 123: “Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri
penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri
itu. …”.

Kalau dulu ada Ibrahim yang menentang Namruj, Daud
versus Jalut, Musa yang menenggelamkan Fir’aun serta masih banyak lagi tokoh
kepahlawanan yang berani berdiri menantang segala bentuk kezhaliman di muka
bumi dalam satu negeri, kini disaat negeri ini, agama ini tengah dihujani
dengan cobaan bertubi-tubi, oleh kekuatan-kekuatan yang terus merongrong,
menteror bahkan mencoba menjadikan agama ini hitam pekat oleh karena kejahilan
orang-orang yang tak bertanggungjawab, adakah lagi pahlawan-pahlawan yang
menjadi tameng pembela seperti halnya Ibrahim, Daud dan Musa? Tentu saja ada.
Karena gemuruh jihad tengah bergelora dalam dada-dada para pahlawan itu.
Tinggal bagaimana diri ini menentukan sikap, memadamkan gemuruh itu dan
membiarkan orang lain mengambil kesempatan menorehkan nama pada kemuliaan atau
menjadikan gemuruh itu sebuah halilintar yang menggetarkan nyali musuh Allah. Wallaahu
a’lam bishshowaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar