Rabu, 23 Februari 2011

Silaturahim

Oleh Fitrianto Setiawan, S.TP.

Silaturahim

Tugas Masyarakat Terhadap Masya’ir Islamiyah

Peranan masyarakat Islam terhadap masya'ir Islamiyah itu tergambar dalam beberapa hal berikut ini :
1. Memperkuat masya'ir itu dan meluruskannya serta menyebarkannya dengan segala sarana penerangan dan pendidikan, seperti masjid, sekolah, buku, surat kabar, radio, televisi' dan theater dan seluruh sarana yang dapat merealisasikan tujuan.
Sungguh kita bisa melihat bagaimana Rasulullah memperkuat perasaan bersaudara di antara kaum Muslimin itu dengan berdoa setiap selesai shalat :
"Ya Allah Tuhan kami, dan Rabb segala sesuatu serta pemiliknya, saya bersaksi bahwa sesungguhnya seluruh hamba-Mu itu bersaudara."
Doa ini untuk memperkuat nilai yang besar. Di antara nikmat yang dimiliki oleh kaum Muslimin adalah bahwa pemikiran dan perasaan yang dibawa oleh agama mereka tidak sekedar ide yang cemerlang, tetapi juga disertai dengan syiar-syiar ibadah, dan tata cara kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika kita melihat shalat dalam Islam, maka kita akan mendapatkan. bahwa shalat itu menegaskan secara kontinyu terhadap apa yang didakwahkan oleh Islam, yaitu berupa ta'aruf (saling berkenalan), persaudaraan, cinta dan persamaan hak. Demikian juga puasa dan haji, adab menghormati, mendoakan orang yang bersin, menjenguk orang yang sakit dan lain-lain dari tata cara bermasyarakat yang ditekankan oleh Islam.

2. Mewujudkan perasaan yang Islami dalam realita yang bisa dirasakan dan kondisi-kondisi strategis.
Perasaan kasih sayang dan cinta di antara kerabat harus diwujudkan dalam bentuk silaturahim, saling mengunjungi dan saling menanggung. Hal itu tergambar dalam aturan "nafkah" dalam Islam, yang mewajibkan bagi kerabat yang kaya berinfak kepada kerabatnya yang membutuhkan, sebagaimana firman Allah SWT:
• "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya." (Al Isra': 26)
• "Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah." (Al Ahzab: 6)

Sebagaimana juga aturan waris, dalam firman Allah SWT:
"Bagi laki-laki ada hak bagian dan harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu bapa dan kerabataya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan." (An-Nisaa': 7)
Perasaan bersaudara dan cinta antar kaum Muslimin wajib diwujudkan dalam bentuk saling memikul beban, saling mendukung dari segi militer, bersatu dalam politik, bekerja sama dalam perekonomian, dengan arti lain hendaklah persaudaraan ini terwujud dalam bentuk seperti zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka untuk diberikan kepada fuqarat mereka, dan juga seperti berjihad yang wajib bagi kaum Muslimin dengan saling menghimpun kekuatan untuk membela setiap bumi Islam yang diinjak-injak oleh telapak kaki musuh yang kafir, juga seperti masalah khilafah yang wajib bagi kaum Muslimin untuk menyatukan qiyadah (kepemimpinan) yang terpancar dari kesatuan aqidah, kesatuan berfikir, kesatuan perilaku dan kesatuan tanah air.
Oleh karena itu kita lihat Rasulullah SAW bahwa yang pertama kali beliau lakukan setelah berhijrah ke Madinah adalah mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar dengan persaudaraan yang penuh kasih sayang dan penuh beramal, itulah yang menjadikan mereka saling berbagi rasa dalam suasana suka maupun duka, sehingga diriwayatkan bahwa mereka itu saling mewarisi dengan persaudaraan ini.
Ketika persaudaraan yang khusus ini telah selesai, maka tinggal persaudaraan secara umum yang ada pada masyarakat Islam sebagai gambaran tentang sistem takaful (saling melengkapi) yang unik dengan berbagai macam dan bentuknya dan sistem ta'awun (saling kerja sama) yang syamil (universal) antara seluruh individu dan jamaahnya, itulah ta'awun yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dengan sebaik-baik ilustrasi yaitu seperti bangunan yang saling memperkokoh antara bagian dengan bagian yang lain.

3. Hendaknya masyarakat Islam tidak memberi kesempatan kepada segala sikap yang bertentangan dengan Islam dengan memunculkan dan mempengaruhi dalam masyarakat Islam, bahkan akarnya harus dicabut sehingga tidak akan muncul, dan mengusirnya jika muncul sehingga akan mati dalam sarangnya.

Oleh karena itu kita melihat Rasulullah SAW membebaskan dirinya dari ashabiyah (kesombongan) yang menghilangkan ukhuwah Islamiyah dan Nabi memeranginya dengan terus terang dan tegas karena khawatir terhadap masyarakat Islam yang baru kalau dirusak oleh qabilah jahiliyah yang berlaku dalam kurun waktu yang cukup lama dan menjadikan seseorang itu marah karena anak kabilahnya, baik dalam keadaan benar atau keliru, zhalim atau dizhalimi, karena itu datang suatu hadits yang mulia yang antipati terhadap setiap orang yang mengajak pada ashabiyah atau berperang karena ashabiyah atau mati karena ashabiyah, beliau bersabda :
"Barangsiapa yang berperang di bawah bendera kesombongan di mana ia mengajak untuk berbangga, dan mendukung karena kesombongan, lalu ia terbunuh rnaka matinya mati jahiliyah."
Ketika ada seorang Yahudi jahat berhasil membangkitkan semangat kesombongan jahiliyah antara Aus dan Khazraj pada suatu hari maka Rasulullah memadamkan api fitnah dengan cahaya iman dan mengembalikan mereka pada persaudaraan Islam.
Para ulama ahli tafsir menyebutkan suatu riwayat dari Muhammad bin Ishaq dan lainnya, bahwa ada seorang laki-laki dari Yahudi sedang lewat bertemu dengan kaum Aus dan Khazraj, maka orang itu merusak kesepakatan dan kerukunan yang ada pada mereka. Orang itu mengutus seseorang yang bersama dengannya untuk duduk bersama mereka dan mengingatkan mereka ketika mereka berperang pada suatu hari dan yang lainnya pada masa-masa jahiliyah, maka orang yang diutus itu melaksanakan perintahnya, dan terus-menerus melakukannya hingga memanaslah nafsu kaum itu. Mereka saling membenci antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain, mereka bergejolak dan saling memanggil dengan syiar mereka, "Wahai Aus, Wahai Khazraj." Mereka saling mempersiapkan senjata mereka dan saling berjanji untuk bertemu di suatu tempat. Sampai kemudian hal itu terdengar oleh Rasulullah SAW Maka Rasulullah SAW beserta orang yang bersamanya dari sahabat Muhajirin mendatangi mereka' lalu Nabi bersabda, "Wahai kaum Muslimin, Allah! Allah! (takutlah kalian kepada Allah) Apakah kalian menyeru dengan seruan jahilyah, sedang saya berada di tengah-tengah kalian? Setelah Allah menunjuki kalian kepada Islam, dan memuliakan kalian dengan Islam, dan memutuskan dan kalian perkara jahiliyah, menyelamatkan kalian dengan Islam itu dan kekufuran, dan mempertemukan hati kalian, lalu kalian mau kembali kepada kekufuran yang dahulu pernah kalian lakukan?!" sehingga kaum itu sadar bahwa itu adalah godaan dari syetan dan tipu daya dari musuh mereka, maka mereka meletakkan senjata dari tangan mereka dan mereka menangis saling berpelukan di antara mereka, kemudian mereka tetap bersama Rasulullah SAW dalam keadaan setia dan
taat." 10)
Demikianlah yang wajib dilakukan oleh masyarakat Isiam, yakni selalu ingat pada madakhil (pintu-pintu) masuk syetan untuk merusak hati mereka dan membangkitkan di antara mereka seruan-seruan jahiliyah.
Dari sinilah maka masyarakat Islam wajib dibebaskan dari kerasnya pengaruh-pengaruh fanatisme kebangsaan dan Nasionalis yang menyerang kehidupan kaum Muslimin untuk mengganti ukhuwah Islamiyah dan persatuan Islam, dan bertindak sebagai musuh. Tidak ada kesalahan bagi seorang Muslim untuk mengarahkan perhatiannya yang lebih besar kepada kaumnya yang lebih dekat dan tanah airnya secara khusus, karena ini merupakan pembawaan fithrah, tetapi dalam lingkup ketaatannya secara menyeluruh kepada Islam dan ummatr.ya.

4. Hendaknya masyarakat Islam menutup jendela yang berhembus darinya angin permusuhan dan perpecahan, dan berusaha memberantas berbagai faktor yang merusak nilai-nilai persaudaraan Islam dan merobohkan perasaan yang Islami (solidaritas Islam).
Inilah rahasia Islam mengharamkan ghibah (menggunjing), mengadu domba, menghina terhadap orang lain' dan memasukkan itu semua sebagai kerusakan moral yang merobek tali dan membunuh ruh mahabbah di antara manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya orangyang paling aku cintai di antara kamu dan yang paling dekat dariku di akhirat adalah yang paling baik akhlaqnya, dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di akhirat adalah orang yang paling burak akhlaqnya, mereka itulah orang-orang yang tsar-tsaruun (banyak orang), mutafaiqihuun, dan orang-orang yang mutasyaddiquun." (HR. Ahmad dan Thabrani)
Dari sinilah Islam mengingkari perbedaan yang tajam antara individu dan kelompok-kelompok, di mana terdapat kemiskinan yang menonjol di sisi kekayaan yang luas, kemewahan yang berlebihan di sisi ketiadaan yang menyedihkan, karena tidak tergambar dalam kehidupan bersaudara antara si kaya yang tenggelam dalam kenikmatan dan si miskin yang selalu merintih karena kelaparan dan kehausan.

*) Lihat Tafsir Ibnu Katsir dan 'Ruhul Ma'ani'-nya Al Alusi dalam menaLsirkan Surat Ali Imran ayat 100.

SUMBER PUSTAKA :
1. Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah (Malaamihu Al Mujtama' Al Muslim Alladzi Nasyuduh) oleh Dr. Yusuf Qardhawi.




Nabi saw. bersabda, "Janganlah kamu saling dengki mendengki, jangan pula saling memutuskan silaturahim, jangan pula saling memarahi, dan jangan pula saling membelakangi. Hendaklah diantara kamu adalah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Ejawantah Cinta Sejati

Oleh Fitrianto Setiawan, STP.*)

Cinta adalah satu kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi di kalangan remaja, karena sudah menjadi anggapan umum bahwa cinta identik dengan ungkapan rasa sepasang sejoli yang dimabuk asmara. Ada yang mengatakan cinta itu suci, cinta itu agung, cinta itu indah dan saking indahnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dll. Bahkan Jalaludin Rumi menggambarkan saking indahnya cinta, setan pun berubah menjadi bidadari. Yang jelas karena cinta, banyak orang yang merasa bahagia namun sebaliknya karena cinta banyak pula orang yang dibuat tersiksa dan merana. Cinta dapat membuat seseorang menjadi sangat mulia, dan cinta pula yang menjadikan seseorang menjadi sangat tercela. Kecintaan Khadijah RA kepada Rasulullah saw yang rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya dengan perasaan bahagia demi perjuangan sang kekasih yang menjadikannya mulia. Sebaliknya ada pemudi yang mengorbankan kehormatannya demi untuk menyenangkan sang kekasih yang dia lakukan atas nama cinta. Atau ada remaja yang menghabiskan nyawanya dengan baygon hanya karena cinta. Cinta yang demikian yang membawanya kepada kehinaan.
Berbicara cinta, cinta sejati, banyak orang mengejawantahkan cinta sejati dengan masing-masing penafsirannya, ada yang dangkal, ada pula yang mendalam hingga ketika kita mendengar kisah cinta itu, hati akan terasa gerimis. Cinta sejati bagi seorang pelajar SMP atau SMA atau bahkan Mahasiswa penghamba cinta, adalah ketika mencintai kekasih hatinya dengan tulus, ikhlas, dan tanpa pamrih, sungguh sebuah penafsiran yang dangkal. Atau bagi seorang seorang kakek yang berkeliling kampung di sebuah Desa Tegal Sumedang untuk menjual kipas bamboo (dalam bahasa sunda : “hihid”) dengan harga tak seberapa hanya untuk membahagiakan sang anak yang cacat fisik dan mental dengan membelikannya sebuah radio ‘butut’. Ini adalah bentuk cinta sejatinya kepada cucunya yang telah ditinggal orang tuanya. Atau cinta sejatinya pasangan tunanetra di Desa Jelegong, yang keduanya berjuang keras, berusaha untuk membiayai sekolah anak semata wayang mereka yang normal, meski keduanya harus melakukan perjalanan Rancaekek – Ledeng dengan berjalan kaki mengantarkan surat permohonan beasiswa ke sebuah Badan Zakat hanya demi anak mereka tercinta. Miskin harta tak membuat mereka miskin iman dan amal.
Kini, mari kita lihat satu kisah tentang cinta ini : suatu kisah seorang sufi yang mengatakan bahwa beliau 'mimpi seakan-akan berada di hadapan Allah' kemudian Allah berkata: (dalam bahasa yang lebih sederhana) ........
Ketika AKU baru menciptakan manusia, mereka semua mengaku cinta kepada-KU.
Kemudian KU-ciptakan dunia, sebagian besar berpaling ke dunia lari meninggalkan-KU, hanya sedikit yang tetap mencintai-KU.
Kemudian KU-ciptakan Surga, sebagian besar dari yang sedikit itu berpaling padanya, dan tinggal sedikit dari yang sedikit tetap mencintai-KU.
Kemudian KU-ciptakan Neraka, sebagian besar dari yang sedikit dari yang sedikit tadi lari meninggalkan-KU karena takut padanya, maka tinggallah sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit tetap cintanya kepada-KU.
Pada yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit itu KU-timpakan ujian, Sebagian besar dari yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit itu tidak tahan dan mengeluh, hingga hanya tinggallah sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit tadi masih tetap cintanya kepada-KU.
Kepada yang tersisa itu AKU katakan... "Kalian tidak menginginkan dunia, tidak mengharapkan surga, tidak lari dari neraka, dan tidak mengeluh dari ujian, lalu apa yang kalian inginkan...?"
"Engkau lebih mengetahui apa yang kami inginkan, jawab mereka."
"AKU akan memberikan cobaan yang berat pada kalian, sebanyak napas kalian, bahkan gunung yang kokoh sekalipun tidak akan sanggup menanggungnya, apakah kalian akan tetap bersabar...?"
"Jika KAU yang menurunkan cobaan itu, kami siap menerimanya."
Kata Allah... "Kalian adalah hamba-hamba-KU yang sejati. Kalian adalah pecinta-KU yang sidiq. Aku akan beri kalian dunia dan surga. Aku akan menyingkirkan segala bencana dari kalian." Mereka yang tersisa itu-lah hamba-KU.
Alhamdulillah... Allah Maha Pemurah, jika tidak karena ada cinta-Nya mustahil kita akan mampu bertahan dengan segala ujian dari-Nya.  Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Allah artinya Takwa. Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Allah yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Ya, itulah cinta sejati  yang (seharusnya) diejawantahkan kepada Allah, Sang Pencinta, Sang Pemberi Cinta.

 *) Ketua LSM Furiska Periode 2008-2010

Senin, 10 Januari 2011

sebuah pembelajaran dari beberapa bantuan gempa padang

oleh Ust. Rahmat Abdullah....

Betapa banyaknya dusta yang dikemas dengan bungkus dan label yang menarik. Betapa banyak kebajikan yang dilakukan dengan bersyunyi-sunyi. Bukan salah pelaksana kebajikan menabur jasa, tetapi salah sebagian penonton yang tak sadar perlunya kebajikan disebarluaskan, minimal untuk menghibur ummat yang kehilangan kepercayaan akan adanya orang-orang yang berhati mulia. Bila seseorang mengundang wartawan untuk meliput acara tahajudnya di tengah malam, atau sedekahnya kepada fakir miskin, hampir dapat dipastikan orang menangkap kesan pamer dan riya’ disana. Akan tetapi bila dana ummat, kesigapan kader dan partisipasi ibu-ibu yang tak kenal lelah menyantuni kaum dhu’afa, memeriksa kesehatan warga tak mampu atau mendirikan pendidikan swadaya masyarakat, apa yang ditakutkan? Riya’, sum’ah, pamer? ALLAH yang memerintahkan untuk berinfaq dengan “rahasia atau terbuka” (Sirran wa’alaniah). Kerap diartikan ‘sirran’ untuk sedekah sunnah oleh pribadi-pribadi dan ‘alaniah’ untuk zakat yang menjadi hak miskin untuk memperolehnya dan hak publik untuk mengetahuinya. Akan dibiarkan ummat putus harapan kepada kader-kadernya yang nyaris tak mereka dengar gebrakan kebajikannya, padahal hanya dalam waktu satu dua jam sesudah terjadinya gempa bumi di suatu kawasan, mereka telah menyiapkan bantuan medis, dapur umum, penampungan. Ummat lain dengan pongahnya menjanjikan sepekan lagi kami akan kesana, sambil menayangkan rekam aksi bakti sosial mereka yang direkayasa seperti banyak, tetapi hanya tipuan lensa. Akan dibiarkan ummat menonton dengan iman yang mulai ragu kepada kebenaran agamanya sendiri, karena disana ditayangkan dalam tayangan tengah malam, betapa doa yang diarahkan kepada makhluk telah membuat melek si buta dan berjalan si lumpuh. Tak ada yang buta dan tak ada yang lumpuh. Yang ada dusta-dusta berkedok doa, orasi-orasi menggelora tetapi kosong dari kebenaran, tipuan-tipuan telah dibawa ke langit lewat satelit. Dan genaplah dusta permanen mereka yang telah dimulai dengan dusta atas nama Allah!

Akan Selalu Ada Pahlawan Di Setiap Kezhaliman

Ibrahim kecil gagah menantang Raja Namruj yang tengah geram, dikelilingi sejumlah pasukan dan beberapa algojonya, Namruj bertanya, “Hai anak kecil, kamukah yang
menghancurkan patung-patung sesembahan kami?”. Dengan enteng Ibrahim berkata,
“Tanyakan saja pada patung yang lebih besar itu, mungkin dia yang melakukannya
karena kapak itu masih tergantung padanya,” ledek Ibrahim sambil menunjuk
patung yang besar yang sengaja tidak dihancurkannya. Tentu saja Raja Namruj
yang terkenal kejam itu semakin berang mendengar jawaban Ibrahim. Bukan hanya
karena merasa dipermainkan seorang anak kecil, melainkan juga, jawaban itu,
terasa menohok sisi kebodohan dirinya dan semua pengikutnya dengan menyembah
sesuatu yang tak memiliki kuasa melakukan satu apapun.

Alhasil, keberangan yang bercampur perasaan terhina Raja Namruj membuat Ibrahim
‘dihadiahi’ hukum bakar, selain karena Ibrahim adalah tersangka utama pelaku
‘teror’ terhadap tempat ibadah kaum yang dipimpin Raja Namruj itu. Namun kuasa
Allah bermain, makar apapun yang dibuat manusia takkan pernah bisa mengalahkan
makar Allah. Seganas dan semerah menyala api membakar tubuh Ibrahim kecil, tak
sedikitpun kulitnya tersentuh oleh jilatan api.

Kisah lain, Daud yang memiliki kemampuan berperang yang hebat tak gentar menghadapi pertarungan “semut lawan gajah” melawan Raja Jalut yang terkenal bengis dan kejam. Daud
yang berasal dari kalangan bawah dengan berbekal sebilah pedang tanpa baju
besi, akhirnya mampu mengalahkan Raja Jalut yang besar dengan segudang
pengalaman bertarungnya. Dalam versi barat, kisah ini dikenal dengan “David
Versus Goliath”.

Sementara itu, seorang utusan Allah lainnya, Musa dengan ditemani saudaranya Harun, menentang kekejaman ‘ayah asuhnya’ sendiri, Raja Fir’aun yang zhalim dan diktator.
Kekuasaanya yang begitu tinggi membuat Fir’aun teramat angkuh menobatkan diri
sebagai Tuhan. Kesombongan yang didukung oleh seorang ilmuan hebat bernama
Hamman dan seorang kaya bernama Qarun, jadilah ia semakin jumawa. Fir’aun yang
terkenal kejam tidak ingin seseorang kelak menghancurkannya, maka kemudian atas
perintahnya, semua bayi laki-laki yang lahir pada masa pemerintahannya pun
dibunuhi. Sekali lagi, Kuasa Allah bermain, bahwa kemudian seorang pemuda Musa
yang justru hidup di lingkungan istana Fir’aun oleh lembutnya kasih sayang
Asiah, menenggelamkan Raja zhalim itu ke dasar lautan.

Dalam khazanah barat, kita pun mengenal kisah yang hampir serupa, yakni kisah kepahlawanan
yang berasal dari orang-orang kecil yang menentang kezhaliman penguasa. Cerita
rakyat Robin Hood mungkin bisa menjadi contoh. Berjuang dari pedalaman hutan
Sherwood, Robin bersama para pengikut setianya ‘merampok’ harta para bangsawan
yang hendak menyerahkan upeti kepada King Richard The Lionheart. Otomatis,
meski makin dicintai rakyat kecil, sepak terjang si pemanah ulung itu
menempatkannya dalam daftar buronan nomor wahid di Inggris saat itu. Cerita
yang hampir sama juga dilakukan legenda Meksiko, Zorro. Dibalik topeng yang
menyembunyikan identitasnya, Zorro membantu orang-orang lemah untuk melawan dan
bangkit dari ketertindasan. Mungkin dua cerita diatas hanyalah mitos atau
sekedar cerita rekaan. Namun setidaknya memberikan satu hikmah, bahwa harus ada
orang-orang pemberani untuk melawan kezhaliman.

Nampaknya, soal keberadaan orang-orang besar yang berlaku zhalim di setiap negeri di setiap
zaman sudah menjadi sunnatullah. Hal itu ditegaskan-Nya dalam Surat Al An’aam
ayat 123: “Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri
penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri
itu. …”.

Kalau dulu ada Ibrahim yang menentang Namruj, Daud
versus Jalut, Musa yang menenggelamkan Fir’aun serta masih banyak lagi tokoh
kepahlawanan yang berani berdiri menantang segala bentuk kezhaliman di muka
bumi dalam satu negeri, kini disaat negeri ini, agama ini tengah dihujani
dengan cobaan bertubi-tubi, oleh kekuatan-kekuatan yang terus merongrong,
menteror bahkan mencoba menjadikan agama ini hitam pekat oleh karena kejahilan
orang-orang yang tak bertanggungjawab, adakah lagi pahlawan-pahlawan yang
menjadi tameng pembela seperti halnya Ibrahim, Daud dan Musa? Tentu saja ada.
Karena gemuruh jihad tengah bergelora dalam dada-dada para pahlawan itu.
Tinggal bagaimana diri ini menentukan sikap, memadamkan gemuruh itu dan
membiarkan orang lain mengambil kesempatan menorehkan nama pada kemuliaan atau
menjadikan gemuruh itu sebuah halilintar yang menggetarkan nyali musuh Allah. Wallaahu
a’lam bishshowaab.

Agar Dapat Melihat Surga

Seorang anak dengan gayanya yang lugu bertanya kepada ibunya, “bu, apa
itu cinta?”. Cinta ada adalah kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari kenikmatan
memberi dan kerelaan berkorban, jawab sang ibu. “Karena itukah banyak orang
mengagungkan cinta?” tanya sang anak lagi. Dengan sabar dan penuh cinta ibunya
menerangkan, bahwa keagungan cinta hanya berada pada cinta Sang Agung, Si
pencipta cinta itu sendiri. Dan jika ada yang mengagungkan cinta diatas
segalanya, sebenarnya ia tidaklah tengah mengagungkan cinta melainkan perasaan
dan nafsunya yang tengah bergumul sehingga meluap menjadi nafsu berbaju cinta.
Padahal jika mau membuka tabir sebenarnya, tentu mereka akan sadar kalau tengah
terombang-ambing oleh arah cinta yang salah. “ini wajar nak, karena kebanyakan
manusia hanya sebatas menggunakan mata kepala dan mengabaikan mata bathinnya,
sehingga ia lupa bahwa cinta bersemayam dan bergetar-getar dihati, bukan di
kepala, apalagi dimata.



Cinta harus dilihat dengan mata bathin, dan kebanyakan manusia
memandang cinta hanya berhenti di mata kepala, sehingga seringkali tidak mampu
menangkap kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari mencinta dan dicinta. Karena
itu, mereka yang senantiasa mampu menggunakan mata bathinnya untuk melihat
segala hal, ia akan melihat siapapun dan apapun dengan cinta. “Karena Allah pun
teramat cinta kepada yang mempersembahkan cinta kepada-Nya”

“Lalu kenapa ada orang yang saling membenci, bertengkar dan saling
bermusuhan?” tanyanya lagi. Itulah kehebatan Allah. Dia ciptakan manusia dengan
bentuk yang sempurna sehingga dengan kesempurnaan yang dimilikinya itu, manusia
bisa menangkap kesan yang lain, tidak hanya cinta. Ada benci, marah, kecewa,
senang, tertawa, sedih dan masih banyak lagi. Tak perlu takut, semua itu salah
satu anugerah dari-Nya yang patut kita syukuri. Sudah menjadi fitrah manusia
tidak menyukai sesuatu yang tidak disenanginya, artinya sesuatu hal yang tidak
berkenan, tidak sesuai dengan hati nuraninya, adalah sangat manusiawi jika
dibenci. Dan adalah fitrah manusia juga untuk kecewa jika sesuatu tak seperti
harapannya, tak seindah mimpinya.



Masalahnya kemudian, bagaimana manusia mengkondisikan hatinya agar
senantiasa condong kepada kebenaran, sehingga benci, marah dan kecewa serta
sedihnya hanya kepada kebathilan, kesemena-menaan, kezhaliman, keserakahan dan
bahkan kesombongan diri, juga dosa yang dilakukannya.“Bagaimana dengan
tersenyum dan tertawa?” Senyum dan tawa adalah sebuah refleksi, sama seperti
benci, marah dan sedih. Hanya bedanya, biasanya senyum dan tawa adalah cermin
dari keberhasilan, kemenangan dan prestasi seseorang akan sesuatu. Tak perlu
merasa bersalah hanya karena tersenyum dan tertawa. Mungkin Allah menciptakan
rasa itu untuk melatih manusia. “Bukankah semua hamba-Nya yang sholeh kelak
akan tersenyum di hadapan Allah yang menghadirkan keagungan wajah-Nya?” jelas
sang Ibu sambil mengusap kening anaknya yang serap-serap mulai terbuai ke alam
tidurnya.Lama ia dibuai cinta sang Ibu, dengan sentuhan lembut ibunya ia
memainkan nyanyian dawai-dawai indah yang bergelung-gelung dialam mimpinya. Ia
merasakan kehangatan hidup, keceriaan dunia. Mungkin karena usianya yang memang
belum pantas merasakan kegetiran dan kepahitannya. Untuk sementara ibunya
membiarkan mimpi anaknya tak terusik oleh kepayahan mencari sesuap nasi yang
dijalaninya, juga hantaman kerikil di sepanjang jalan yang disusurinya. Terik
dan hujan menjadi baluran tubuhnya sehari-hari, demi satu cita, tak kan
membiarkan dimasa depan anaknya mengeluarkan keringat dan darah seperti yang
dialaminya kini. Mungkin semua orangtua mempunyai mimpi yang sama. Hingga
dengan demikian sang ibu semakin sadar bahwa hanya Tuhanlah yang selama ini
menguatkan, mempertebal kesabaran serta menanamkan keyakinan dihatinya, bahwa
esok matahari masih akan terbit.Dan menjelang fajar, seusai kesejukan membasuh
seluruh tubuh untuk kemudian bersimpuh dihadapan-Nya. Tak terasa air bening
mengalir membasahi pipi, untaian kata pinta yang tak pernah berhenti, yang tak
pernah berhias putus asa, yang tak diiringi penyesalan akan beban hidup yang
saat ini diamanahkan kepadanya. Terkadang ada tangis yang begitu keras sekeras
benturan kehidupan yang menerpanya, hingga tak sadar tangisannya itu menyentuh
relung bathin anaknya sampai terbangun.



“Kenapa ibu menangis?” Menangis adalah satu
anugerah Allah lainnya nak. Menangis adalah wujud dari kelemahan manusia yang
jelas-jelas kekuatannya sangat terbatas. Menangis adalah pembuktian akan adanya
Yang Maha Kuat yang memiliki kehendak diatas segala mau dan keinginan manusia.
Tak perlu malu untuk menangis, karena dengan menangis kita tengah melunturkan
kesombongan, kepekatan hati yang penuh noda hitam dari setiap detik hidup yang
berlumur salah, juga menghilangkan penyakit-penyakit lainnya yang kerap hinggap
di kalbu.Menangis tidak mesti dengan air mata, meski biasanya selalu dengan
itu. Air bening yang membasahi mata akan membasuh dosa yang berawal dari
penglihatan manusia. Kemudian airnya turun menyejukkan wajah kita. Itulah cara
Allah membersihkan wajah manusia yang coreng-moreng oleh kekhilafannya. Maka
dengan menangis setiap hari, wajah menjadi bersih, hati pun sejuk kembali dan
kebeningan mata yang sudah terhapuskan pekatnya, memberikan keindahan
tersendiri. Semua itu, hanya agar manusia dapat melihat surga. Wallahu ‘a’lam
bishshowaab

Apa Salahnya Menangis?

Apa salahnya menangis, jika memang dengan
menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya,
saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt.
Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia
tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya.
Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat
dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari
kebenaran.

Sebagian orang menganggap menangis itu
adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi
selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu
melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika
mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah
hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis
merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai
peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air
matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari
oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu
menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat
dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar
suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca
Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap
Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam
berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap
Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para
sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam
jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang
peka.

Bukankah diantara tujuh golongan manusia
yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan
Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia
meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo’a
sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam
kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat
saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam
kesendirian dikala berdo’a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang
harus diembannya di dunia ini.

Di zaman ketika manusia lalai dalam
gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya.
Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata
demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya
terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita
tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya
mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang
sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya.
Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia
akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan
terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan
kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan
kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka
sendiri) seraya berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami
bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian
Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83). Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat
Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi
mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu.
Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran
itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja
yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.

Orang yang keras hatinya, akan sulit
menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari
Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran.
Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin
Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia
tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, “Sesungguhnya
orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah.
Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”.
(QS. An Nisa’: 145)

Barangkali di antara kita yang belum pernah
menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo’a
di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang
terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar
ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi
penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak
menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di
dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan
dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82). Jadi
apa salahnya menangis?.

Who am I???

banyak dari manusia belum mengenal dirinya dengan baik…
bahkan lupa akan dirinya…
lupa akan fitrah yang Allah berikan padanya…
lupa akan tugasnya sebagai khalifah…
lupa bahwa dirinya sebagai dai yang menyampaikan kebaikan pada orang lain…
lupa akan kewajiban yang Allah berikan…
lupa akan tilawah-tilawahnya…
lupa akan Qiyamul Lailnya…
lupa untuk membina keluarganya untuk benar-benar menjalankan Islam dengan baik…
Ya itulah sifat manusia yang lupa akan hakikatnya sebagai manusia…
apakah anda termasuk salah satu didalamnya???
hanya anda yang tahu…
Who Am I????