Senin, 10 Januari 2011

Agar Dapat Melihat Surga

Seorang anak dengan gayanya yang lugu bertanya kepada ibunya, “bu, apa
itu cinta?”. Cinta ada adalah kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari kenikmatan
memberi dan kerelaan berkorban, jawab sang ibu. “Karena itukah banyak orang
mengagungkan cinta?” tanya sang anak lagi. Dengan sabar dan penuh cinta ibunya
menerangkan, bahwa keagungan cinta hanya berada pada cinta Sang Agung, Si
pencipta cinta itu sendiri. Dan jika ada yang mengagungkan cinta diatas
segalanya, sebenarnya ia tidaklah tengah mengagungkan cinta melainkan perasaan
dan nafsunya yang tengah bergumul sehingga meluap menjadi nafsu berbaju cinta.
Padahal jika mau membuka tabir sebenarnya, tentu mereka akan sadar kalau tengah
terombang-ambing oleh arah cinta yang salah. “ini wajar nak, karena kebanyakan
manusia hanya sebatas menggunakan mata kepala dan mengabaikan mata bathinnya,
sehingga ia lupa bahwa cinta bersemayam dan bergetar-getar dihati, bukan di
kepala, apalagi dimata.



Cinta harus dilihat dengan mata bathin, dan kebanyakan manusia
memandang cinta hanya berhenti di mata kepala, sehingga seringkali tidak mampu
menangkap kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari mencinta dan dicinta. Karena
itu, mereka yang senantiasa mampu menggunakan mata bathinnya untuk melihat
segala hal, ia akan melihat siapapun dan apapun dengan cinta. “Karena Allah pun
teramat cinta kepada yang mempersembahkan cinta kepada-Nya”

“Lalu kenapa ada orang yang saling membenci, bertengkar dan saling
bermusuhan?” tanyanya lagi. Itulah kehebatan Allah. Dia ciptakan manusia dengan
bentuk yang sempurna sehingga dengan kesempurnaan yang dimilikinya itu, manusia
bisa menangkap kesan yang lain, tidak hanya cinta. Ada benci, marah, kecewa,
senang, tertawa, sedih dan masih banyak lagi. Tak perlu takut, semua itu salah
satu anugerah dari-Nya yang patut kita syukuri. Sudah menjadi fitrah manusia
tidak menyukai sesuatu yang tidak disenanginya, artinya sesuatu hal yang tidak
berkenan, tidak sesuai dengan hati nuraninya, adalah sangat manusiawi jika
dibenci. Dan adalah fitrah manusia juga untuk kecewa jika sesuatu tak seperti
harapannya, tak seindah mimpinya.



Masalahnya kemudian, bagaimana manusia mengkondisikan hatinya agar
senantiasa condong kepada kebenaran, sehingga benci, marah dan kecewa serta
sedihnya hanya kepada kebathilan, kesemena-menaan, kezhaliman, keserakahan dan
bahkan kesombongan diri, juga dosa yang dilakukannya.“Bagaimana dengan
tersenyum dan tertawa?” Senyum dan tawa adalah sebuah refleksi, sama seperti
benci, marah dan sedih. Hanya bedanya, biasanya senyum dan tawa adalah cermin
dari keberhasilan, kemenangan dan prestasi seseorang akan sesuatu. Tak perlu
merasa bersalah hanya karena tersenyum dan tertawa. Mungkin Allah menciptakan
rasa itu untuk melatih manusia. “Bukankah semua hamba-Nya yang sholeh kelak
akan tersenyum di hadapan Allah yang menghadirkan keagungan wajah-Nya?” jelas
sang Ibu sambil mengusap kening anaknya yang serap-serap mulai terbuai ke alam
tidurnya.Lama ia dibuai cinta sang Ibu, dengan sentuhan lembut ibunya ia
memainkan nyanyian dawai-dawai indah yang bergelung-gelung dialam mimpinya. Ia
merasakan kehangatan hidup, keceriaan dunia. Mungkin karena usianya yang memang
belum pantas merasakan kegetiran dan kepahitannya. Untuk sementara ibunya
membiarkan mimpi anaknya tak terusik oleh kepayahan mencari sesuap nasi yang
dijalaninya, juga hantaman kerikil di sepanjang jalan yang disusurinya. Terik
dan hujan menjadi baluran tubuhnya sehari-hari, demi satu cita, tak kan
membiarkan dimasa depan anaknya mengeluarkan keringat dan darah seperti yang
dialaminya kini. Mungkin semua orangtua mempunyai mimpi yang sama. Hingga
dengan demikian sang ibu semakin sadar bahwa hanya Tuhanlah yang selama ini
menguatkan, mempertebal kesabaran serta menanamkan keyakinan dihatinya, bahwa
esok matahari masih akan terbit.Dan menjelang fajar, seusai kesejukan membasuh
seluruh tubuh untuk kemudian bersimpuh dihadapan-Nya. Tak terasa air bening
mengalir membasahi pipi, untaian kata pinta yang tak pernah berhenti, yang tak
pernah berhias putus asa, yang tak diiringi penyesalan akan beban hidup yang
saat ini diamanahkan kepadanya. Terkadang ada tangis yang begitu keras sekeras
benturan kehidupan yang menerpanya, hingga tak sadar tangisannya itu menyentuh
relung bathin anaknya sampai terbangun.



“Kenapa ibu menangis?” Menangis adalah satu
anugerah Allah lainnya nak. Menangis adalah wujud dari kelemahan manusia yang
jelas-jelas kekuatannya sangat terbatas. Menangis adalah pembuktian akan adanya
Yang Maha Kuat yang memiliki kehendak diatas segala mau dan keinginan manusia.
Tak perlu malu untuk menangis, karena dengan menangis kita tengah melunturkan
kesombongan, kepekatan hati yang penuh noda hitam dari setiap detik hidup yang
berlumur salah, juga menghilangkan penyakit-penyakit lainnya yang kerap hinggap
di kalbu.Menangis tidak mesti dengan air mata, meski biasanya selalu dengan
itu. Air bening yang membasahi mata akan membasuh dosa yang berawal dari
penglihatan manusia. Kemudian airnya turun menyejukkan wajah kita. Itulah cara
Allah membersihkan wajah manusia yang coreng-moreng oleh kekhilafannya. Maka
dengan menangis setiap hari, wajah menjadi bersih, hati pun sejuk kembali dan
kebeningan mata yang sudah terhapuskan pekatnya, memberikan keindahan
tersendiri. Semua itu, hanya agar manusia dapat melihat surga. Wallahu ‘a’lam
bishshowaab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar