Rabu, 23 Februari 2011

Ejawantah Cinta Sejati

Oleh Fitrianto Setiawan, STP.*)

Cinta adalah satu kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi di kalangan remaja, karena sudah menjadi anggapan umum bahwa cinta identik dengan ungkapan rasa sepasang sejoli yang dimabuk asmara. Ada yang mengatakan cinta itu suci, cinta itu agung, cinta itu indah dan saking indahnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dll. Bahkan Jalaludin Rumi menggambarkan saking indahnya cinta, setan pun berubah menjadi bidadari. Yang jelas karena cinta, banyak orang yang merasa bahagia namun sebaliknya karena cinta banyak pula orang yang dibuat tersiksa dan merana. Cinta dapat membuat seseorang menjadi sangat mulia, dan cinta pula yang menjadikan seseorang menjadi sangat tercela. Kecintaan Khadijah RA kepada Rasulullah saw yang rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya dengan perasaan bahagia demi perjuangan sang kekasih yang menjadikannya mulia. Sebaliknya ada pemudi yang mengorbankan kehormatannya demi untuk menyenangkan sang kekasih yang dia lakukan atas nama cinta. Atau ada remaja yang menghabiskan nyawanya dengan baygon hanya karena cinta. Cinta yang demikian yang membawanya kepada kehinaan.
Berbicara cinta, cinta sejati, banyak orang mengejawantahkan cinta sejati dengan masing-masing penafsirannya, ada yang dangkal, ada pula yang mendalam hingga ketika kita mendengar kisah cinta itu, hati akan terasa gerimis. Cinta sejati bagi seorang pelajar SMP atau SMA atau bahkan Mahasiswa penghamba cinta, adalah ketika mencintai kekasih hatinya dengan tulus, ikhlas, dan tanpa pamrih, sungguh sebuah penafsiran yang dangkal. Atau bagi seorang seorang kakek yang berkeliling kampung di sebuah Desa Tegal Sumedang untuk menjual kipas bamboo (dalam bahasa sunda : “hihid”) dengan harga tak seberapa hanya untuk membahagiakan sang anak yang cacat fisik dan mental dengan membelikannya sebuah radio ‘butut’. Ini adalah bentuk cinta sejatinya kepada cucunya yang telah ditinggal orang tuanya. Atau cinta sejatinya pasangan tunanetra di Desa Jelegong, yang keduanya berjuang keras, berusaha untuk membiayai sekolah anak semata wayang mereka yang normal, meski keduanya harus melakukan perjalanan Rancaekek – Ledeng dengan berjalan kaki mengantarkan surat permohonan beasiswa ke sebuah Badan Zakat hanya demi anak mereka tercinta. Miskin harta tak membuat mereka miskin iman dan amal.
Kini, mari kita lihat satu kisah tentang cinta ini : suatu kisah seorang sufi yang mengatakan bahwa beliau 'mimpi seakan-akan berada di hadapan Allah' kemudian Allah berkata: (dalam bahasa yang lebih sederhana) ........
Ketika AKU baru menciptakan manusia, mereka semua mengaku cinta kepada-KU.
Kemudian KU-ciptakan dunia, sebagian besar berpaling ke dunia lari meninggalkan-KU, hanya sedikit yang tetap mencintai-KU.
Kemudian KU-ciptakan Surga, sebagian besar dari yang sedikit itu berpaling padanya, dan tinggal sedikit dari yang sedikit tetap mencintai-KU.
Kemudian KU-ciptakan Neraka, sebagian besar dari yang sedikit dari yang sedikit tadi lari meninggalkan-KU karena takut padanya, maka tinggallah sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit tetap cintanya kepada-KU.
Pada yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit itu KU-timpakan ujian, Sebagian besar dari yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit itu tidak tahan dan mengeluh, hingga hanya tinggallah sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit tadi masih tetap cintanya kepada-KU.
Kepada yang tersisa itu AKU katakan... "Kalian tidak menginginkan dunia, tidak mengharapkan surga, tidak lari dari neraka, dan tidak mengeluh dari ujian, lalu apa yang kalian inginkan...?"
"Engkau lebih mengetahui apa yang kami inginkan, jawab mereka."
"AKU akan memberikan cobaan yang berat pada kalian, sebanyak napas kalian, bahkan gunung yang kokoh sekalipun tidak akan sanggup menanggungnya, apakah kalian akan tetap bersabar...?"
"Jika KAU yang menurunkan cobaan itu, kami siap menerimanya."
Kata Allah... "Kalian adalah hamba-hamba-KU yang sejati. Kalian adalah pecinta-KU yang sidiq. Aku akan beri kalian dunia dan surga. Aku akan menyingkirkan segala bencana dari kalian." Mereka yang tersisa itu-lah hamba-KU.
Alhamdulillah... Allah Maha Pemurah, jika tidak karena ada cinta-Nya mustahil kita akan mampu bertahan dengan segala ujian dari-Nya.  Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Allah artinya Takwa. Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Allah yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Ya, itulah cinta sejati  yang (seharusnya) diejawantahkan kepada Allah, Sang Pencinta, Sang Pemberi Cinta.

 *) Ketua LSM Furiska Periode 2008-2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar